Teori Finansial dari Robert Toru Kiyosaki (1)

Chapter 1

Salah satu alasan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan kelas menengah terjerat utang adalah karena masalah uang diajarkan di rumah, dan tidak di sekolah. Kita kebanyakan belajar soal uang dari orangtua kita. Artinya, apa yang dapat diajarkan oleh orangtua yang miskin kepada anak-anak mereka mengenai uang? Mereka hanya mengatakan, “Teruslah sekolah dan belajarlah yang giat.” Si anak mungkin lulus dengan peringkat yang mengagumkan tetapi dengan sikap mental dan program finansial orang miskin. Itu dipelajari sewaktu anak tersebut masih muda.

Uang tidak diajarkan di sekolah. Sekolah berfokus pada keterampilan di bidang pelajaran dan keterampilan profesional, bukan pada keterampilan finansial. Ini menjelaskan bagaimana bankir, dokter, dan akuntan yang pandai dan memperoleh ranking yang tinggi di sekolah masih harus berjuang secara finansial sepanjang hidup mereka. Utang nasional kita yang menggunung sebagian besar disebabkan karena para politikus dan pejabat pemerintah yang berpendidikan tinggi membuat keputusan finansial dengan sedikit atau bahkan sama sekali tanpa latihan mengenai masalah uang.

Uang adalah satu bentuk kekuasaan, kekuatan. Tetapi apa yang lebih kuat adalah pendidikan finansial. Uang datang dan pergi, tetapi jika anda mempunyai pendidikan tentang bagaimana uang bekerja, anda memperoleh kekuasaan atasnya dan dapat mulai membangun kekayaan. Alasan mengapa pemikiran positif saja tidak berhasil adalah karena kebanyakan orang pergi ke sekolah dan tidak pernah belajar bagaimana uang bekerja, sehingga mereka menghabiskan hidup mereka untuk bekerja demi uang.

Mereka hanya meminta sebuah pekerjaan dan gaji. Mereka pergi bekerja, memperoleh slip gaji mereka, menyeimbangkan buku cek mereka, dan selesai. Ditambah lagi, mereka bertanya-tanya mengapa mereka mempunyai masalah uang. Kemudian mereka berpikir bahwa uang yang lebih banyak akan memecahkan masalah. Hanya sedikit yang menyadari bahwa masalahnya adalah mereka kurang dalam hal pendidikan finansial.

Kebanyakan orang tidak bergairah untuk belajar tentang uang. Mereka ingin pergi ke sekolah, mempelajari suatu profesi, bersenang-senang di tempat kerja mereka, dan menghasilkan banyak uang. Suatu hari mereka bangun dengan masalah keuangan yang besar, dan kemudian mereka tidak dapat berhenti bekerja. Itulah harga bila hanya mengetahui bagaimana bekerja demi uang alih-alih belajar tentang bagaimana agar uang bekerja untukmu.

Kebanyakan orang mempunyai harga. Dan mereka mempunyai harga karena emosi manusia yang disebut ketakutan dan ketamakan. Pertama, takut hidup tanpa uang memotivasi kita untuk bekerja keras, dan kemudian setelah kita mendapat slip gaji, ketamakan atau nafsu berpikir mengajak kita untuk mulai berpikir tentang semua hal indah yang bisa dibeli dengan uang. Suatu pola pun kemudian dibentuk, yaitu pola bangun, bekerja, membayar tagihan, bangun, bekerja, membayar tagihan. Kehidupan mereka pun selamanya digerakkan dan dijalankan oleh dua emosi, ketakutan dan ketamakan. Tawarilah mereka uang lebih banyak, dan mereka pun meneruskan siklus itu dengan meningkatkan pengeluaran mereka. Inilah yang Robert T. Kiyosaki sebut “Rat Race” atau “Perlombaan Tikus”.

Kekayaan tidak memecahkan masalah. Ada emosi yang lain, yaitu hasrat atau keinginan. Sangatlah wajar bila orang menginginkan sesuatu yang lebih baik, lebih indah, lebih menyenangkan. Jadi orang bekerja untuk uang karena keinginan. Mereka menginginkan uang untuk kesenangan yang mereka pikir bisa mereka beli. Tetapi kesenangan yang dibawa oleh uang sering kali tidak lama, dan mereka pun segera menginginkan uang lebih banyak untuk mendapatkan kesenangan lebih banyak, kenikmatan lebih banyak, kenyamanan lebih banyak, dan keterjaminan lebih banyak. Karena itu mereka terus bekerja, mengira bahwa uang akan menenangkan jiwa mereka yang diganggu oleh rasa takut dan keinginan. Tetapi uang tidak dapat menenangkan jiwa. Orang kaya juga termasuk. Kenyataannya, alasan banyak orang kaya adalah kaya bukan karena keinginan tetapi karena rasa takut. Sesungguhnya mereka berpikir bahwa uang dapat menyingkirkan rasa takut tidak memiliki uang, menjadi miskin, sehingga mereka menimbun berton-ton uang hanya untuk mendapati bahwa ketakutan itu semakin parah. Mereka sekarang takut kehilangan uang. Orang yang sekarang mempunyai uang jutaan dolar menjadi lebih takut ketimbang ketika mereka miskin. Mereka sangat takut kalau kehilangan semua uang mereka. Ketakutan yang mendorong mereka untuk menjadi kaya semakin buruk. Bagian jiwa mereka yang lemah dan miskin sesungguhnya menjerit lebih keras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: