Teori Finansial dari Robert Toru Kiyosaki (3)

Chapter 3
Pekerjaan hanyalah solusi jangka pendek untuk masalah jangka panjang. Kebanyakan orang hanya mempunyai satu masalah dalam pikirannya, dan itu jangka pendek. Uang sekarang mengatur hidup mereka. Atau haruskah saya mengatakan rasa takut dan tidak tahu soal uang. Karena itu mereka berbuat sama seperti yang dulu dilakukan orangtua mereka, bangun pagi setiap hari dan pergi bekerja untuk mencari uang. Tidak punya waktu untuk mengatakan, ‘Apakah ada cara lain?’ Sekarang emosi mereka menguasai pikiran, bukan kepala mereka.

Kecerdasan bisa memecahkan dan menghasilkan uang. Memiliki uang tanpa kecerdasan finansial akan membuat uang itu cepat habis. Kebanyakan orang tidak bisa menyadari bahwa yang penting dalam hidup ini bukanlah berapa banyak uang yang bisa anda hasilkan, tetapi berapa banyak uang yang bisa anda simpan. Kita tentu pernah mendengar kisah-kisah tentang orang miskin yang memenangkan undian. Secara tiba-tiba mereka menjadi kaya raya, tapi tak lama kemudian jatuh miskin lagi. Mereka memenangkan undian atau lotere jutaan dolar, tapi dalam waktu singkat mereka kembali ke titik dimana mereka mulai. Meskipun saya senang melihat banyak orang menjadi semakin kaya, saya cuma mau mengingatkan bahwa untuk jangka panjang, bukanlah berapa banyak yang bisa anda hasilkan, tetapi berapa banyak yang bisa anda simpan, dan untuk berapa generasi anda bisa menyimpannya.

Aturan Pertama. Anda harus mengetahui perbedaan antara aset dan liabilitas (liability, kewajiban), dan membeli aset. Jika anda ingin kaya, itulah yang perlu anda ketahui. Itulah Aturan No. 1. Itulah aturan satu-satunya. Kedengarannya hal ini sederhana, tetapi kebanyakan orang tidak mempunyai gagasan seberapa dalam arti aturan ini. Kebanyakan orang berjuang mati-matian secara finansial karena mereka tidak tahu perbedaan antara aset dan liabilitas. Dalam kebanyakan kasus, kesederhanaan gagasan itu luput dari kebanyakan orang dewasa karena mereka telah dididik secara berbeda. Mereka telah dididik oleh para profesional terdidik lainnya, seperti para bankir, akuntan, agen real estat, perencana finansial dan sebagainya. Kesulitan muncul saat meminta orang dewasa untuk belajar melupakan (unlearn) atau menjadi anak-anak kembali. Seorang dewasa terpelajar sering kali merasa rendah kalau harus memperhatikan definisi yang terlalu sederhana.

Aset adalah sesuatu yang menaruh atau memasukkan uang ke dalam saku. Liabilitas adalah sesuatu yang mengeluarkan uang dari saku. Inilah yang sungguh-sungguh perlu anda ketahui. Jika anda ingin kaya, habiskan hidup anda dengan membeli aset. Jika anda ingin miskin atau menjadi kelas menengah, habiskan hidup anda dengan membeli liabilitas. Tidak mengetahui perbedaan kedua hal itulah yang menyebabkan banyaknya pergumulan dan kesulitan finansial dalam hidup sehari-hari.

Dalam 80% kebanyakan keluarga, cerita finansial adalah sebuah cerita kerja keras dan jerih payah dalam usaha untuk maju. Bukan karena mereka tidak menghasilkan uang. Tetapi karena mereka menghabiskan hidup mereka untuk membeli liabilitas dan bukan aset. Setiap orang jelas hidup dengan berbagai pengeluaran, paling tidak kebutuhan akan makanan, tempat tinggal, dan pakaian. Kebanyakan orang kaya mempunyai kekurangan yaitu mereka menganggap bahwa uang akan memecahkan segala masalah mereka. Tetapi uang yang lebih banyak kerap kali tidak memecahkan masalah; kenyataannya, hal itu malah mempercepat masalah. Uang kerap memperjelas kekurangan atau kelemahan manusiawi kita yang tragis. Uang sering kali menyoroti apa yang tidak kita ketahui. Itu sebabnya, begitu sering, seseorang yang tiba-tiba kejatuhan rezeki nomplok, Misalnya saja warisan, kenaikan upah yang drastis, atau menang lotere, segera kembali ke kesulitan finansial yang sama, bahkan terkadang lebih buruk daripada sebelum mereka menerima uang itu. Uang hanya menegaskan pola arus kas yang mengalir dalam kepala anda. Jika pola anda adalah menghabiskan segala sesuatu yang anda peroleh, kemungkinan sangat besar kenaikan dalam uang kas akan berbuntut pada kenaikan dalam pengeluaran. Karena itu ada perumpamaan, “Orang bodoh dan uangnya adalah satu pesta besar.”

Kita pergi ke sekolah untuk memperoleh keterampilan skolastik dan keterampilan profesional, keduanya memang penting. Kita belajar menghasilkan uang dengan keterampilan profesional kita. Dulu, jika seseorang berhasil baik secara akademis di sekolah, orang langsung saja menduga bahwa murid yang cemerlang ini akan melanjutkan studinya untuk menjadi seorang dokter. Sering kali tak seorang pun bertanya pada anak itu apakah dia memang ingin menjadi dokter. Itu diasumsikan begitu saja. Karena dokter adalah profesi dengan upah finansial besar yang menjanjikan. Sekarang, anak-anak ingin menjadi bintang bola basket, pegolf seperti Tiger Woods, jago komputer, artis, bintang rock, ratu kecantikan, atau pialang saham di bursa efek. Alasannya sederhana, karena di sana ada ketenaran, uang, dan prestise. Itu sebabnya sangatlah sulit untuk memotivasi anak-anak bersekolah. Mereka tahu bahwa kesuksesan profesional tidak lagi hanya tergantung pada keberhasilan akademis seperti yang dulu terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: