Teori Finansial dari Robert Toru Kiyosaki (4)

Chapter 4
Karena murid-murid meninggalkan sekolah tanpa keterampilan finansial, jutaan orang terdidik mengejar profesi mereka secara sukses, tetapi kemudian mendapati diri mereka berjuang setengah mati dalam hal finansial. Mereka bekerja lebih keras, tetapi tidak maju-maju juga. Apa yang hilang dari pendidikan mereka bukanlah cara menghasilkan uang, tetapi bagaimana membelanjakan atau menghabiskan uang. Apa yang anda lakukan setelah mendapatkan uang. Ini disebut kecerdasan atau bakat finansial. Apa yang anda lakukan dengan uang setelah anda mendapatkannya, bagaimana menyimpannya agar tidak “diambil” orang, seberapa lama anda menyimpannya, dan seberapa keras uang itu bekerja untuk anda. Kebanyakan orang tidak dapat menceritakan mengapa mereka bergumul secara finansial karena mereka tidak memahami arus kas. Seseorang bisa berpendidikan tinggi, sukses secara profesional, tetapi buta secara finansial. Mereka ini sering bekerja lebih keras daripada yang mereka perlukan karena mereka belajar bagaimana bekerja keras, tetapi tidak belajar bagaimana membuat uang mereka bekerja untuk mereka.

Seorang pasangan muda yang baru menikah, bahagia, berpendidikan tinggi hidup bersama di salah satu apartemen sewaan yang sumpek. Mereka segera menyadari bahwa mereka dapat menabung uang karena dua orang dapat hidup sama murahnya seperti satu orang. Masalahnya adalah, apartemen itu sumpek, terlalu kecil untuk mereka berdua. Mereka memutuskan untuk menabung uang mereka agar bisa membeli rumah impian mereka sehingga mereka bisa memiliki beberapa anak. Sekarang mereka memiliki dua penghasilan, dan mereka mulai memfokuskan diri pada karier mereka. Pemasukan mereka mulai meningkat. Ketika pemasukan mereka naik. . . Pengeluaran mereka juga naik terus. Pengeluaran No. 1 bagi kebanyakan orang adalah pajak. Banyak orang berpikir itu adalah pajak penghasilan, tetapi bagi kebanyakan orang Amerika pajak tertinggi mereka adalah Jaminan Sosial. Sebagai seorang karyawan, tampak seolah-olah pajak Jaminan Sosial ditambah dengan tarif pajak Kesehatan besarnya sekitar 7,5%, tetapi sesungguhnya 15% karena majikan harus memenuhi besarnya jumlah Jaminan Sosial. Intinya, ini adalah uang yang tidak dapat dibayarkan oleh majikan kepada anda. Lebih dari itu semua, anda masih harus membayar pajak penghasilan sejumlah yang dikurangkan dari pajak anda untuk pajak Jaminan Sosial melalui pemotongan pajak, pemasukan/penghasilan yang tidak pernah anda terima karena langsung disetor untuk Jaminan Sosial melalui withholding (pemotongan gaji pegawai oleh majikan untuk membayar pajak pendapatan negara bagian).

Kemudian, liabilitas mereka pun turut naik. Ini diperlihatkan sangat baik dengan kembali kepada pasangan muda yang kita sebut di atas. Karena pemasukan/penghasilan mereka naik, mereka memutuskan untuk pindah dan membeli rumah impian mereka. Setelah tinggal di rumah baru mereka, mereka mempunyai sebuah pajak baru, yang disebut pajak properti (Pajak Bumi dan Bangunan). Kemudian mereka membeli sebuah mobil baru, furnitur baru, peralatan baru yang sesuai dengan rumah baru mereka. Semuanya terjadi dalam sekejap, mereka terjaga dan kolom liabilitas mereka penuh dengan utang kredit rumah dan utang kartu kredit. Mereka sekarang terjebak dalam perlombaan tikus. Anak yang mereka harapkan pun lahir sudah. Mereka bekerja lebih keras lagi. Proses itu pun terulang dengan sendirinya. Uang lebih banyak dan pajak lebih tinggi itulah yang disebut bracket creep (pajak yang tinggi, bila dikombinasi dengan dampak inflasi, bisa berarti penurunan dalam penghasilan). Kartu kredit tiba di kotak surat. Mereka menggunakannya. Kredit pun melewati batas. Perusahaan peminjaman menelepon dan mengatakan “aset” terbesar mereka, yakni rumah mereka, sudah ditafsir nilainya. Perusahaan itu menawarkan sebuah pinjaman “bill consolidation” (peminjaman sejumlah uang untuk melunasi rekening sebelumnya yang sudah harus dibayar), karena kredit mereka begitu bagus, dan memberi tahu mereka hal cerdik yang bisa dilakukan adalah menghapus utang konsumen yang berbunga-tinggi dengan melunasi kartu kredit mereka. Dan di samping itu, bunga atas rumah mereka adalah sebuah potongan pajak. Mereka tertarik pada tawaran itu, dan melunasi kartu kredit yang berbunga-tinggi itu (dengan pinjaman baru). Mereka menghirup napas lega. Kartu-kartu kredit mereka sudah dilunasi. Utang mereka ditutup dengan hipotek rumah. Cicilan mereka turun karena mereka memperpanjang utang mereka sampai 30 tahun lebih. Ini adalah hal cerdik untuk dilakukan. Tetangga mereka menelepon dan mengundang mereka untuk berbelanja, maklum obral besar menjelang hari raya sedang digelar di semua toko dan mal. Sebuah kesempatan untuk menghemat uang, karena harga jelas lebih murah. Mereka berkata dalam hati, “Saya tidak akan membeli apa pun. Saya akan melihat-lihat saja.” Tetapi bila kebetulan mereka menemukan sesuatu, mereka pun akan mengeluarkan kartu kredit mereka dari dompet.


%d bloggers like this: