Teori Finansial dari Robert Toru Kiyosaki (5)

Chapter 5
Kita dapat bertemu pasangan muda seperti ini sepanjang waktu, hanya saja nama-nama mereka berbeda, tetapi masalah finansial mereka tetap sama. Kebiasaan mereka menghabiskan/membelanjakan uang telah membuat mereka mencari uang yang lebih banyak. Mereka bahkan tidak tahu bahwa masalah sesungguhnya adalah bagaimana mereka memilih membelanjakan uang yang memang mereka miliki, dan itulah penyebab riil dari pergumulan finansial mereka. Ini disebabkan oleh kebutaan finansial dan tidak memahami perbedaan antara aset dan liabilitas.

Uang yang lebih banyak tidak selalu menyelesaikan masalah uang yang dialami seseorang. Intelegensilah yang memecahkan masalah. Ada perumpamaan kepada mereka yang berutang. “Jika kamu mendapati dirimu dalam sebuah lubang. . berhentilah menggali.”

Orang miskin dan kelas menengah hampir selalu membiarkan kekuatan uang menguasai mereka. Hanya dengan bangun pagi dan bekerja lebih keras, tanpa menanyakan pada diri mereka apakah yang mereka lakukan itu masuk akal, mereka sama saja dengan menembak kaki mereka sendiri ketika mereka berangkat bekerja setiap pagi. Dengan tidak sepenuhnya memahami uang, begitu banyak orang membiarkan kekuatan uang yang menyilaukan itu menguasai diri mereka. Kekuatan uang digunakan untuk melawan mereka. Terlalu sering, alih-alih mempercayai kebijaksanaan batin mereka, sang jenius di dalam diri mereka, kebanyakan orang menyetujui dan mengikuti arus massa. Mereka melakukan sesuatu karena semua orang melakukannya. Mereka menyesuaikan diri ketimbang mempertanyakan. Sering kali, tanpa pikir panjang mereka mengulangi apa yang telah dikatakan kepada mereka. Gagasan-gagasan seperti “rumahmu adalah sebuah aset”. “Rumahmu adalah investasimu yang terbesar”. “Carilah pekerjaan yang aman dan menjamin”. “Bekerjalah lebih keras”. “Bila gaji saya naik, saya akan membeli rumah yang lebih besar untuk keluarga kita.” Banyak masalah keuangan yang besar disebabkan karena mengikuti arus massa dan berusaha menyamai keluarga Salim. Terkadang, kita semua butuh bercermin dan bersikap jujur pada kebijaksanaan batin kita ketimbang pada rasa takut kita.

Ayah Mike yang juga disebut sebagai “Rich Dad” oleh Robert, dia meninggalkan sekolah pada umur 13 tahun dan dia berhasil menjadi pemimpin, dia memimpin, menginstruksi, memerintah, dan menanyai karyawan-karyawannya dan orang-orang yang terdidik. Ayah Mike tidak dididik oleh sekolah, tetapi dia dididik secara finansial dan hasilnya adalah kesuksesan. Ayah Mike memberi tahu mereka bahwa “Orang yang pandai mempekerjakan orang yang lebih pandai daripada mereka.”

Seorang guru di sekolah sering berkata, “Jika kalian tidak memperoleh ranking yang baik, kalian tidak akan bekerja dengan baik di dunia nyata.” Jadi kebanyakan sekolah dirancang untuk menghasilkan karyawan yang baik ketimbang menghasilkan majikan.

Sebuah rumah bukanlah aset, tetapi adalah liabilitas karena ia menguras uang dari saku kita. Berikut ini adalah argumen yang dikemukakan oleh Robert tentang rumah adalah liabilitas.

1. Bila menyangkut rumah, dia menunjukkan bahwa kebanyakan orang bekerja sepanjang hidup mereka untuk membayar rumah yang tidak pernah mereka miliki. Dengan kata lain, kebanyakan orang membeli sebuah rumah baru setiap sekian banyak tahun, dan setiap kali membuat pinjaman baru berjangka 30 tahun untuk melunasi rumah sebelumnya

2. Meskipun orang menerima pengurangan pajak untuk bunga atas pembayaran hipotek, mereka membayar semua pengeluaran mereka dengan uang setelah-dipotong-pajak. Bahkan setelah mereka melunasi hipotek mereka.

3. Pajak properti. Orangtua istrinya kaget ketika pajak properti atas rumah mereka mencapai US$1,000 per bulan. Ini terjadi setelah mereka pensiun, maka kenaikan ini membebani bujet pensiunan mereka, dan mereka merasa dipaksa untuk pindah rumah.

4. Harga atau nilai rumah tidak selalu naik. Dalam tahun 1997, dia masih memiliki teman-teman yang memiliki utang jutaan dolar untuk membeli rumah, yang kalau dijual sekarang hanya bernilai US$700,000.

5. Kehilangan/kerugian terbesar dari semuanya adalah hilangnya kesempatan. Jika semua uang anda diinvestasikan dalam rumah, anda mungkin dipaksa untuk bekerja lebih keras karena uang anda terus mengalir keluar dari kolom pengeluaran, ketimbang menambah kolom aset, ini pola arus kas kelas menengah yang klasik. Jika sepasang suami-istri yang masih muda hendak menempatkan lebih banyak uang ke dalam kolom aset mereka dari dini, di tahun-tahun kemudian mereka akan hidup lebih mudah, terutama ketika mereka hendak menyekolahkan anak mereka ke perguruan tinggi. Aset mereka akan tumbuh dan akan tersedia untuk membantu menutup pengeluaran. Terlalu sering, sebuah rumah hanya berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan pinjaman ekuitas rumah untuk membayar pengeluaran yang menggunung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: