Lingkungan sangat penting dalam membentuk karakter

Masih terlintas satu kekonyolan di ingatan saya sewaktu itu, sekitar tahun 2006-2007, sewaktu saya menjabat menjadi wakil kepala sekolah. Saya sempat me…
ndapat tugas mengurus pertukaran pelajar dengan pelajar Singapore.

Singkat cerita, terjadilah kejadian tersebut, 14 anak Singapore dan 2 gurunya datang ke Indonesia selama 2 minggu. Mr. Chao (Singapore) dan Mr. Prakash (India), dua guru pendamping 14 siswa datang ke Indonesia. Dengan logat “Singlish” di bandara mereka menyapa saya “how are you …, thank you for appreciation. Nice to meet you …”


Telah dipilih 14 anak yang akan kita kirim ke Singapore kelak, dan kunjungan pertama ini mereka akan menjadi tuan rumah dari 14 anak yang akan datang, alias 14 anak Singapore ini menginap di rumah mereka masing-masing.

Yang saya perhatikan dari 14 anak yang datang ini tidak ada satu orang yang gendut atau buncit perutnya, usia mereka rata-rata adalah 15 tahun. Sepantaran dengan “anak-anak” saya. Tubuh mereka cenderung atletis dan kurus berotot. Seragam bentuk tubuhnya hampir sama. Saya menanyakan kepada guru pendampingnya apakah anak-anak ini dipilih yang kurus-kurus saja yang dikirim ke Indonesia? (pertanyaan konyol dan memang ingin tahu). Dijelaskan oleh guru pendamping Mr. Chao, mereka yang overweight harus melakukan ekstra PE (Physical Education), sampai batas yang ditentukan sekolah dicapai. Mereka harus sehat, dan salah satu ukuran sehat adalah tidak kelebihan berat badan. “Hebat!!” Dalam hati saya.

Lalu kelebihan lain saya amati mereka selalu ontime dalam jadwal – jadwal keseharian mereka, dan yang paling nampak jelas adalah mereka selalu tidak pernah terpisah dalam kelompok, serta taat pada guru pendamping mereka. Selama 2 minggu kita beraktifitas bersama, guru pendamping hampir seperti turis yang berlibur, tidak terlalu mengurusi anak-anak didiknya. Mereka yang dari Singapore sudah terorganisir dengan rapi, dan hampir tidak pernah berkonflik dengan guru pendamping mereka. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan dan melakukannya.

Hanya 3-4 hari sebelum kepulangan mereka, suasana sudah mulai berubah. Apa yang terjadi? Mereka sudah ketularan budaya murid saya. Mulai tidak ontime, dan “cenderung slow respon” terhadap stimulus yang kita berikan. Dan selanjutnya kita bisa pahami…

Bahwa habit yang sudah terbentuk tahunan pun dapat rusak dalam hitungan minggu. Seusai acara, dan murid dari Raflesh Singapore pulang, kita lakukan evaluasi dan sambil ngelus dada kita menertawakan diri kita sendiri.

Lingkungan sangatlah penting dalam membentuk seseorang menjadi pribadi yang tangguh, sebaliknya juga lingkungan menjadi penghalang seseorang menjadi pribadi yang berkarakter baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: