Sederhana Itu Hebat

Sederhana Itu Hebat
Oleh: Dian

Apakah sederhana itu kurang bernilai? Jika Anda mengatakan kurang, cobalah
perhatikan tampilan mesin pencari termashur di dunia: Google. Dalam ruang
layar komputer Anda, kata Google berada di posisi pusat. Sesekali kata
Google ditulis dalam ornamen-ornamen tematis.

Beberapa kata memang tertulis pula di halaman ini. Selebihnya kosong.
Sunyi. Dalam ruang selebar itu tidak ada hal-hal lain yang bersaing untuk
memperebutkan perhatian kita sebagai pemakai. Seluruh perhatian tertuju
kepada Google.

Formula yang dirumuskan Albert Einstein juga terbilang sederhana, E = mc2.
Perhatian kita langsung terpusat kepada energi (E) dan massa (m). Tidak ada
unsur lain yang bersaing dan mengacaukan pemahaman kita mengenai relasi
luar biasa di antara massa dan energi.

Dalam banyak hal, penampakan yang sederhana ternyata menyimpan sesuatu yang
sangat bernilai, sesuatu yang luar biasa. Kata-kata yang terpampang di
laman Google tersebut mewakili algoritma yang kompleks, yang mampu
menemukan kata yang kita cari di antara jutaan halaman web dalam waktu yang
sangat singkat.

Kemampuan memadatkan kompleksitas di dalam sesuatu yang sederhana patutlah
dipujikan. Banyak karya hebat merepresentasikan kemampuan seperti ini.
Lihatlah blue jeans. Karya yang diciptakan oleh Levi Strauss untuk pekerja
tambang ini tak lekang oleh waktu karena kesederhanaannya.

Perancang busana mashur, mendiang Yves Saint Laurent, menyebut blue jeans
sebagai karya yang paling spektakuler, paling praktis, paling rileks, dan
tidak ambil pusing. “Saya berharap sayalah yang menemukan blue jeans,”
ujarnya suatu ketika.

Bagi Yves, blue jeans mewakili filosofi yang luar biasa dan bukan sekedar
sepotong celana panjang. “Blue jeans memiliki ekspresi, kerendahan hati,
daya tarik seksual, dan kesederhanaan—semua yang saya harapkan ada pada
pakaian saya,” ujar mendiang perancang dari Prancis itu.

Mencapai tingkat kesederhanaan seperti itu sangat sukar, sebab di dalam
kesederhanaan Google, E = mc2, dan blue jeans terangkum kompleksitas yang
tidak kasat mata. Di dalam mesin Google tersimpan kecanggihan algoritma dan
di dalam rumus Einstein terkandung pengertian yang terdalam mengenai makna
dan kekuatan materi.

Bagaimana menciptakan blue jeans yang nyaman dipakai dan tidak memalukan
untuk dipakai di “forum terhormat” sekalipun? Levi Strauss mampu
menerjemahkan bukan hanya unsur kenyamanan ergonomis tetapi juga psikologis.

Kesederhanaan serupa maujud dalam karya-karya Apple di bawah mendiang Steve
Jobs. Kesederhanaan itu ditampilkan dalam Mac dan iPad, misalnya, lewat
pendekatan yang digambarkan oleh suhu desain Apple, Jonathan Ive, “dengan
berusaha mencapai banyak hal namun menggunakan yang paling sedikit.”

Kecanggihan cara bekerja sebuah mesin tidak mesti ditunjukkan lewat
kerumitan cara memakai. Justru penyederhanaan yang harus dikejar. Seperti
kata Ive, “Kita sangat sibuk berusaha mengembangkan pemecahan yang sangat
sederhana karena sebagai makhluk fisik kita memahami kejelasan.”

Inti dari semua contoh kesederhanaan tersebut ialah berfokus pada apa yang
penting. Filosofinya ialah menyingkirkan hal-hal yang berlomba-lomba
menarik perhatian Anda.

Saya rasa, filosofi ini patut pula diadopsi oleh pemimpin perusahaan maupun
pemimpin masyarakat. Boleh berpikir canggih, tapi, seperti kata CEO Cisco
System John Chambers, “menjadi tugas pemimpin untuk menyederhanakan yang
rumit demi kemaslahatan orang banyak.” ***

Sumber: Tempo Interaktif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: