Belajar Dari Korea Selatan

Belajar Dari Korea Selatan
21 Nov 2014
Muhammad Kholid

Tulisan ini adalah kelanjutan dari pembahasan di tulisan saya sebelumnya “Hati Hati Jebakan Pendapatan Menengah!”. Selamat Membaca.

Pada tahun 1960, pendapatan per kapita Korea Selatan tidak jauh berbeda dengan Indonesia yakni USD 79 (low income country). Namun, selama 1970-2002 rata-rata pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 7,2 persen per tahun sehingga kinerja ini mampu meningkatkan pendapatan per kapita sebesar 180 kali lipat menjadi USD 12,638 di tahun 2003 (Yim & Kim, 2005). Tahun 2013, pendapatan per kapita Korea Selatan sudah mencapai sekitar USD26.000 dan masuk dalam jajaran negara-negara berpendapatan tinggi (high income countries).

Dunia pun menyaksikan, bagaimana Korea Selatan yang di tahun 1960-an adalah negara miskin, terbelakang, sangat tradisional dan didominasi kegiatan pertanian subsisten, namun dalam kurun waktu 3 hingga 4 dekade kemudian berubah dengan sangat cepat menjadi raksasa Asia baru dengan berbagai macam produk teknologi canggihnya di pasar global.

Para pelaku bisnis pun mengakui bagaimana Samsung mampu menantang dominasi Apple di pasar industri teknologi tinggi. Bahkan, Samsung Galaxy Tab sendiri telah menjadi market leader di Indonesia. Di industri otomotif ada Hyundai yang telah mampu berkompetisi dengan mobil-mobil mewah dari Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Ada POSCO sebagai salah satu produsen baja terbesar di dunia. Samsung dan 16 perusahaan unggulan Korea Selatan pun sukses masuk dalam Fortune 500 Global Companies di tahun 2014.

Bagaimana Korea Selatan mampu melakukannya?

Para ahli knowledge management dan kebijakan teknologi menyimpulkan bahwa kuatnya Sistem Inovasi Nasional (National Innovation System) adalah kunci kebehasilan transformasi ekonomi Korea Selatan (Chung 1999; Kim 1993, 2001; Lim 2000; Suh 2000). Sistem Inovasi Nasional adalah kolaborasi peran antara pemerintah (public sector), industri dan Universitas dalam melakukan technological learning and transfer untuk memperkuat kemampuan perusahaan dan atau suatu negara dalam menghasilkan inovasi teknologi (Nelson,1995; Lundval, 1992). Banyak studi menunjukkan bahwa pengalaman negara-negara maju sebelumnya yang berhasil mengubah perekonomiannya dari tradisional menuju perekonomian yang modern adalah negara-negara yang mampu melakukan inovasi teknologi (Grossman, 1991).

Professor Linsu Kim dari Korea University yang juga merupakan arsitek kebijakan inovasi teknologi Korea Selatan membagi tiga tahap perjalanan inovasi teknologi negaranya sehingga mampu mencipatakan Sistem Inovasi Nasional yang mumpuni.

Pertama, duplicative imitation (1960-pertengahan 1970). Pada tahap ini, baik perusahaan, universitas maupun institusi pemerintahan masih belum memiliki kemampuan melakukan inovasi teknologi. Permintaan akan inovasi teknologi juga belum ada atau rendah, mengingat perekonomian masih tradisional, bernilai tambah rendah dan mengandalkan factor-faktor produksi yang murah. Kebijakan yang bisa dilakukan adalah membeli produk teknologi yang sudah mature di pasar dan digunakan dalam proses pembangunan ekonomi.

Pada tahap ini, kebijakan technological borrowing dengan cara mempelajari proses dan produk teknologi yang sudah matang (reverse engineering) sebagai sebuah proses pembelajaran teknologi di level perusahaan penting untuk dijalankan. Optimalisasi manfaat efek limpahan teknologi dalam proses foreign direct investment juga dilakukan. Karena di tahap ini permintaan teknologi masih belum tinggi, maka pemerintah berinisiatif menciptakan permintaan tersebut dengan membentuk 20 Government Research Institutes (GRIs) untuk 20 sektor industri strategis yang menjadi prioritas pembangunan.

Oleh karena itu, pemerintah Korea membentuk pusat pengembangan IPTEK yakni Korea Institute of Science and Technology (KIST) pada tahun 1966. Pada periode awal ini, Ministry of Science and Technology (MOST) dan KIST memegang peranan yang sangat sentral dalam meletakan fondasi bangunan Sistem Inovasi Nasional yang kokoh.

Kedua, creative imitation (akhir 1970 – akhir 1980). Kebijakan penciptaan permintaan akan teknologi dengan membentuk KIST dan 20 GRIs menstimulasi terjadinya proses pembelajaran terhadap penggunaan dan penciptaan teknologi imitatif. Penggunaan dan penciptaan teknologi imitatif ini juga berdampak pada peningkatan efisiensi dan efektifitas kinerja perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini lambat laun menyadari pentingnya penguasaan teknologi untuk membuat lompatan produktivitas output dan outcome perusahaan. Para pemimpin perusahaan ini pun mulai memahami arti penting teknologi sebagai kunci peningkatan daya saing perusahaan mereka di masa mendatang.

Proses technological learning di tingkat perusahaan dilakukan dengan cara mempelajari explicit knowledge (pengetahuan formal yang bisa dipelajari di bangku sekolahan atau training) dan tacit knowledge (pengetahuan yang dipelajari dengan cara pembiasaan, tindakan dan pengerjaan di lapangan melalaui proses learning by doing). Sinergi GRIs dan Industri mendorong universitas meningkatkan kemampuannya melakukan diseminasi ide dan mendorong terjadinya difusi teknologi. Universitas mulai melakukan peningkatan kemampuan Research & Development, baik untuk basic research maupun applied research bagi pengembangan industri. Jika ditahap duplicative imitation hampir seluruh dananya dari pemerintah, di tahap kedua ini industri mulai melakukan investasi R&D untuk pengembangan kemampuan inovasi perusahaan. Hal ini terbukti peningkatan R&D industri dari awalnya hanya 3 persen di tahun 1970 menjadi 75 persen dari total pengeluaran nasional untuk R&D di tahun 1985. Dan mayoritas investasi R&D itu dilakukan para Chaebol seperti Samsung, Hyundai, Daewoo dll (Kim & Yi, 1997). Pada tahap ini juga mulai dilakukan reorganisasi dan spesialisasi investasi R&D sehingga lebih fokus dalam mendorong adanya inovasi teknologi. Untuk memperkokoh kegiatan R&D, pemerintah membangun Universitas besar khusus untuk pengembangan ilmu pengatahuan dan teknologi, yakni Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST) pada tahun 1971. Di tahap ini juga pemerintah Korea melalui MOST membuat NRDP (National R&D Program).

Ketiga, innovation (awal 1990- sekarang). Runtuhnya tembok berlin dan revolusi ICT menandai era baru globalisasi dengan cirinya hyper-competition. Korea Selatan sadar bahwa jika hanya membuat produk teknologi imitatif (baik itu duplicative maupun creative), Korea Selatan bisa dipastikan tidak akan mampu bersaing di lanskap persaingan ekonomi global. Jika tidak ada arah perubahan kebijakan teknologinya, maka Korea akan menjadi victim dari globalisasi tersebut. Menyadari kondisi tersebut, pemerintah, industri dan universitas berkomiten untuk memperkuat lagi Sistem Inovasi Nasional yang sudah dibangun di dua tahap sebelumnya. Jika sebelumnya pemerintah yang memimpin pembentukan dan pembangunan Sistem Inovasi Nasional, di tahap ini, justru industri yang memimpin revolusi inovasi teknologi. Hal ini bisa dilihat pada tahun 1990, industri melakukan investasi R&D sebesar USD 4,7 milyar dan di tahun 1997 meningkat hampir tiga kali lipat menjadi USD 12,8 milyar (Kim,2001).

Pemerintah sendiri lebih fokus dalam memberikan insentif fiskal yang kompetitif bagi peningkatan daya saing industri, membangun secara masif infrastruktur lunak dan keras, melakukan reformasi birokrasi secara konsisten, menyekolahkan mahasiswa-mahasiswanya secara agresif ke kampus-kampus terbaik didunia, memperkuat implementasi good governance di semua jenjang pemerintahan. Tidak hanya MOST, Kementrian Komunikasi dan Teknologi Informasi dan Kementrian Industri dan Perdagangan juga secara proaktif mendorong kebijakan ekspor produk-produk inovasi teknologi ke pasar dunia. Di saat yang sama, Universitas mengarahkan R&D untuk future technology, pengembangan Science Parks dan pusat-pusat inkubasi teknologi, menyediakan SDM-SDM peneliti handal dan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Di tahap ini pula, Kementrian Pendidikan juga digabungkan dengan Kementrian Riset dan Teknologi. Penyatuan Kementrian Pendidikan dan Ristek dilatar belakangi karena linkage antara Industri dan Universitas sudah sangat kuat dan butuh pengaturan satu atap di satu kementrian.

Modal Indonesia

Tiga tahap inovasi teknologi di atas adalah sebuah upaya ‘Self Discovery’ dari proses pembangunan ekonomi nasional Korea Selatan. Tentunya, setiap negara memiliki karakteristik, keunggulan dan faktor-faktor yang tidak sama. Setiap negara memiliki tantangan yang berbeda dalam menemukan jalan pembangunannya. Namun demikian, pengalaman Korea Selatan ini menunjukkan arti penting penguatan Sistem Inovasi Nasional. Start pembangunan ekonomi Korea Selatan dan Indonesia sama, namun kondisi hari ini menunjukkan hasil yang jauh berbeda.

Fakta ini harus jadi refleksi nasional mengapa ini bisa terjadi? Tesis Paul Krugman yang mematahkan teori keajaiban Asia pada tahun 1994 masih relevan untuk dijadikan rujukan awal. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang dialami Indonesia selama tiga dekade itu adalah pertumbuhan yang unsustainable, karena pertumbuhan itu hanya meningkatkan input lewat labor cost yang rendah dan akumulasi modal yang tinggi. Sedangkan total factor productivity dalam hal ini kapabilitas inovasi teknologi kurang berkembang dengan baik. Teori ‘Paper Tigers‘ yang dicetuskan Nouriel Roubini dkk juga perlu menjadi catatan serius bahwa sumber kejatuhan ekonomi-ekonomi Asia Timur termasuk Indonesia tahun 1998 adalah masalah moral hazard dan governance yang buruk. Perilaku ini yang menyebabkan kebijakan tidak pruden, excessive debt, over investment sehingga menjadi bom waktu bagi perekonomian nasional.

Saat ini Indonesia memiliki modal yang sangat bagus untuk bisa mengikuti jalan sukses ini. Selama 2 dekade mendatang, Indonesia menikmati bonus demografi dimana mayoritas populasinya masuk kategori usia produktif. Ekonomi Indonesia surplus permintaan, tinggal sisi penawaran (industri, teknologi, kualitas SDM dan infrastruktur) yang harus bisa melakukan catch-up. Demokrasi dan politik nasional yang relatif stabil juga menjadi asset yang sangat berharga bagi pembangunan. Kapasitas fiskal yang luar biasa besar menjadi peluang bagi upaya Big Push kebijakan inovasi dan teknologi, tinggal dilakukan reformasi fiskal yang sehat dan lebih berpihak pada pengembangan inovasi teknologi. Kita tentunya berharap, ikhtiar pemerintah Jokowi-JK dengan membentuk Kementrian Ristek dan Dikti dalam satu atap kementrian bukan sekedar menggabungkan dua insitusi yang berbeda tanpa ada arah yang jelas mau kemana kita melangkah. Kebijakan ini harus mampu membangunkan kembali Sistem Inovasi Nasional kita yang mungkin sudah agak lama tertidur pulas. Saatnya Bangkit, Indonesiaku!

sumber: https://www.selasar.com/politik/belajar-dari-korea-selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: