Rahasia Kemajuan Korea Selatan (Bagian 1)

Rahasia Kemajuan Korea Selatan (Bagian 1)
05 Jan 2015
Hazairin Pohan
Pengamat Senior. Ketua Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemlu RI (2012) dan Duta Besar RI untuk Polandia (2006-2010).

Korea Selatan (www.informasimu.com)

Jika sekarang orang mengatakan Korea Selatan adalah hebat tentu susah dibantah. Negeri ini tampil nyata di international stage pada bidang ekonomi maupun politik. Tetapi, siapa menyangka ketika dunia sekarang ini masih dilanda kemiskinan, di negeri-negeri yang banyak rakyatnya hidup di bawah 1 dolar perhari, ternyata keadaan serupa pernah hadir cukup lama di Korea Selatan.

Dari negeri ini, kita di Indonesia bisa belajar banyak. Betapa kita menyia-nyiakan kekayaan alam melimpah ruah, sumber daya manusia yang hebat karena negeri kita dipandang dunia sebagai the young nation, dan yang paling merugi adalah menyia-nyiakan waktu. Korea Selatan tidak memiliki sumber daya alam dan bukan pula dihitung sebagai the young nation. Akan tetapi, mereka tidak menyia-nyiakan waktu, dan kesempatan sekecil apapun. Ya, mereka memanfaatkan akal dan budi manusia untuk menyiasati tantangan untuk diubah menjadi kesempatan.

Bagaimana negeri ini secara spektakuler dalam 60 tahun seusai perang yang berkepanjangan di tahun 1953 bisa mencuat mengagumkan? Orang mengatakan hal ini dicapai karena “The Miracle of the Han River”. Sungai Han ini membelah ibukota Seoul yang dulu juga miskin papa, boleh dibilang sumber inspirasi, dari peradaban unggul bahkan sebelum Masehi. Saya 2 kali mengunjungi negeri ini, tahun 2013 dan 2014 atas undangan seorang sahabat saya Albert yang juga sering berkunjung ke Indonesia. Masing-masing kami mempunyai catatan, kelebihan dan kekurangan baik di Indonesia maupun di Korea. Kini giliran saya membuat catatan tentang negerinya.

“Ibu saya sering tidak makan, dan jika kami sedang makan seadanya saya bertanya mengapa ibu tidak makan, dan ibu saya selalu bilang dia sudah makan. Padahal saya tahu dia belum makan,” kenang Albert, pada masa kecilnya di tahun 1950-an, ketika negerinya baru saja selesai Perang Korea, 1950-1953.

Kalau makan boleh kurang, namun belajar wajib lebih, dan presiden kami ketika itu, Park Chung-hee bilang kalau kamu lapar karena makanan kurang perbanyak minum air, kenang Albert lagi. Masa kecil Park sendiri penuh penderitaan, ayahnya cuma pencari jamur di hutan dan sering minum-minum di lapo dekat rumahnya. Ibunya buruh tani yang menjadi tulang-punggung untuk menghidupi maupun mendidik anak-anaknya. Park yang bertubuh kurus kecil setiap harinya berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk pergi ke SD yang jauh dari kampungnya, Gumi.

Korea Selatan, negeri seluas 100 ribu km2 dengan penduduk 51 juta kini muncul di akhir Perang Dunia II dan terbelah dua dengan saudaranya di Korea Utara yang relatif lebih makmur ketika itu di akhir Perang Korea, tahun 1953. Korea dengan 70 persen tanahnya perbukitan yang gersang dan kosong praktis memulai membangun hanya bermodal sumberdaya manusia, tepatnya dengan semangat mereka yang tinggi. Kedua Korea pewaris dari Kerajaan Goryeo atau juga disebut Koryo dan disebut orang Inggris sebagai “Korea”.

Sejarah negeri ini yang ribuan tahun lalu pernah jaya, wilayahnya mencakup Manchuria di China, memang bangsa yang ulet, tahan menderita, dan cerdik. Mereka bangga dalam ribuan kali berperang dengan China mereka tidak pernah kalah. Meskipun pernah dijajah Jepang selama 35 tahun, namun berkat kegigihan Park dan dukungan rakyanya kini Korea Selatan telah mengalahkan Jepang di berbagai bidang.

Setelah kemerdekaan di tahun 1945 dan dilanjutkan dengan penentuan masa depan negeri ini oleh pemenang Perang Dunia yang gagal membentuk pemerintahan selama 3 tahun karena dibayangi oleh perbedaan ideologis: kapitalis atau komunis. Karena tidak tercapai kata sepakat, terjadilah Perang Korea selama 3 tahun di tahun 1950. Pada akhir perang di tahun 1953 tercatat 5 juta orang tewas sebagai korban dari Perang Korea. Negeri ini pun hancur lebur dan terbelah dua. Nanti, di bagian lain akan saya tulis mengapa faktor eksternal itu begitu kuat memisahkan kedua negeri ini.

Memang sukar membayangkan kemiskinan dahsyat terjadi di “negeri ginseng” ini. Di tahun 1953, pendapatan perkapita cuma USD 67,00, lebih rendah daripada Filipina atau Myanmar! Negeri ini pernah 90 persen tergantung pada bantuan luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, setelah Perang Korea. Sehabis Perang Korea di tahun 1953, Jenderal Mac Arthur, panglima perang AS di Pasifik pernah bilang: “negeri ini tidak punya masa depan, dalam seratus tahun pun tidak cukup untuk membangunnya”. Tidak dipandang penting bagi Mac Arthur kecuali karena obsesinya menghalau komunis Tiongkok.

Apa resep Korea Selatan sukses membangun?

Mengutamakan Pendidikan dan Penguasaan Teknologi

Pertama, Korsel memilih jalan yang tepat: pendidikan satu-satunya program untuk restorasi bangsa. 90 persen APBN hanya untuk pendidikan. “Belajar dan kerja keras: hanya itu cara untuk memuliakan hidup”, demikian seruan pemimpin negeri ini. Maka berduyun-duyun anak-anak pergi ke sekolah meskipun menempuhnya berjalan kaki sejauh 10 km setiap harinya. Investasi dan kesungguhan dalam pendidikan ini merupakan modal bagi Korsel untuk menghasilkan tenaga kerja unggul di bidang industri. Inilah yang menjadi impetus kemajuan bagi negeri ini.

Korea Selatan 60 tahun kemudian telah berubah menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-12 dunia! Transformasi ini, menurut penerawang modern Alvin Toffler, lompatan yang luar biasa, berkat kemajuan pengetahuan dan teknologi. Ini yang menjadi obsesi Korea ketika negeri ini dipimpin oleh Presiden Park Chung-hee. Resep pertama ini kemajuan di bidang penguasaan iptek berkat resep kedua keberhasilan Korea: jiwa entrepreneur, kemandirian dalam menghadapi tantangan. Untuk mencapai kemandirian menghadapi tantangan, diperlukan resep ketiga: percaya diri untuk mencapai keberhasilan. Mari kita lanjutkan.

Memang setelah perang berakhir, ancaman komunis dari Utara yang didukung Soviet dan Tiongkok telah menjadikan bangsa ini “under siege”, atau mengidap penyakit sampai kini “siege mentality”. Semua tetangganya, Korut, Tiongkok, Jepang, dan Rusia pada tingkat berbeda adalah ancaman. Yang paling berbahaya adalah saudaranya di Utara itu. Karena itu pula tidak heran jika Korsel pun jatuh di tangan penguasa militer, di bawah Jenderal Park Chung-hee yang menjadi penguasa negeri setelah kudeta militer di tahun 1961. Park berkuasa sampai di tahun 1979, selama 18 tahun, sampai dia ditembak mati oleh kepala intelijen, KCIA. Dalam kurun 18 tahun di bawah rezim militer tentu saja HAM atau demokrasi dikorbankan, dan tampaknya bukan sia-sia. Nanti kita ulas rekam-jejak Park Chung-hee secara khusus dalam tulisan berikutnya di seri ini.

Rezim militer menafikan pentingnya HAM atau demokrasi demi pembangunan ekonomi sebagai prioritasnya. Park kemudian membentuk Dewan Perencana Ekonomi, yang juga bertanggungjawab untuk alokasi dana pembangunan serta untuk investasi luar negeri. Tidak ada catatan khusus apakah Jenderal Park itu anti demokrasi. Cuma, dia pandang demokrasi pada waktu yang sempit itu kemewahan yang tidak bermanfaat. Bahkan sering menghambat dia dalam membangun Korea. DPR yang bertele-tele tidak di-entertain oleh Park.

Tidak lama setelah kudeta, di tahun 1962 Korea di bawah Park menetapkan Repelita yang menjadi blue print pembangunan ekonomi yang menjadi prioritas utamanya. Masalahnya dana tidak ada, bahkan AS juga kurang mendukung, seperti tercermin dalam ucapan Mac Arthur bahwa seratus tahun pun tak cukup untuk membangun Korea. Kesia-siaan. Amerika tak mau memberikan pinjaman pada pemerintah pelanggar HAM dan anti-demokrasi itu.

Park tidak menyerah.

Bersambung
sumber: https://www.selasar.com/politik/rahasia-kemajuan-korea-selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: