Rahasia Kemajuan Korea Selatan (Bagian 2, Selesai)

Rahasia Kemajuan Korea Selatan (Bagian 2, Selesai)
06 Jan 2015
Hazairin Pohan

Pada bagian pertama catatan saya dari perjalanan ke Korea Selatan di-ungkapkan betapa pentingnya pendidikan untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, dilandasi rasa percaya diri dan keyakinan.

Pada awal Repelita I di tahun 1962, Presiden Park Chung-hee menghadapi tantangan yang luar biasa. Kondisi dalam negeri mengalami kemiskinan, kelaparan dan kesusahan melanda di seluruh pelosok negeri. Tetapi, di sana ada harapan untuk kebangkitan dicanangkan. Ada masa depan yang cerah jika kita akan berupaya, berikhtiar menghadapi semua tantangan, dalam dan luar negeri. Maklum, negeri ini baru saja menyelesaikan Perang Korea di tahun 1953 dan mesiu ancaman perang masih tajam menyengat hidung.

Pengiriman Tenaga Kerja

Isu pengiriman tenaga kerja ke luar negeri bukan asing bagi kita. Banyak kesedihan di sana, namun tidak kurang secercah harapan ditumpukan di negeri orang, guna memperbaiki nasib jika keadaan di dalam negeri tidak lebih baik.

Bagaimana dengan Korea? Di negeri Korea yang miskin sumber daya alam, satu-satunya andalan Park adalah ‘sumberdaya manusia’. Tidak mudah bagi Korea, karena negeri ini miskin dan hanya memiliki tenaga kerja industri tanpa sumber daya alam yang berarti. Sebelum melangkah ke pengiriman tenaga kerja, Presiden Park mencoba meminjam uang dari Amerika Serikat. Gagal. Alasannya, Amerika tidak mendukung rejim militer yang represif dan tidak demokratis, apalagi Korea bukanlah negeri petro dolar dengan kekayaan alam yang melimpah. Tidak ada insentif bagi Amerika untuk memenuhi permintaan Park.

Selanjutnya Park mencoba meminjam uang dari Jerman Barat. Sebagai pendukung Amerika, sulit bagi Jerman untuk memberikan pinjaman kepada pemerintah represif junta militer. Park bergeming dan menawarkan untuk mengirim tenaga kerja industri, penambang serta perawat sebagai pembayaran atas pinjaman luar negerinya. Presiden Jerman setuju karena kekurangan tenaga kerja untuk membangun post-war Germany. Upah para pekerja itu dibayar Park dengan mata uang Won di dalam negeri, dan sementara kebutuhan mereka ketika bekerja di Jerman dipenuhi seadanya. Ini disetujui Jerman.

Rakyat Korea pun berbondong-bondong mendaftar, diseleksi dan dikirimkan. Lebih dari sekadar memperbaiki nasib diri sendiri dan keluarga, di sana ada semangat patriotisme, kesediaan berkorban untuk negeri tercita, untuk Ibu Pertiwi. Ini saya sebut resep keempat bagi kesuksesan Korea: kesiapan rakyatnya untuk berkorban demi untuk tujuan yang lebih baik. Tentu saja, syarat kepemimpinan yang didukung rakyat menjadi faktor penting. Park anti KKN dan ternyata miskin di akhir jabatannya.

Di kala negeri memanggil, rakyat pun siap berkorban, baik untuk perang maupun untuk membangun. Ketika negeri ini ditimpa krisis moneter di tahun 1997-1998, rakyatnya mengumpulkan emas dan menyumbangkannya kepada pemerintah, dengan suka rela. 320 ton emas terkumpul dalam waktu singkat!

Di negeri-negeri Asia yang mengalami krisis moneter program Korea ini ditiru. Sebagian berhasil di Thailand, tetapi gagal total di Indonesia. Ketika itu, tidak ada yang mau menyumbangkan emasnya karena tahu kesulitan moneter itu akibat ulah konglomerat untuk kepentingannya. Konglomerat Korea atau Chaebol memang menjadi penyebab anjloknya ekonomi (buble) tetapi chaebol ini bergerak menjadi ‘instrumen’ negara, dan di sana digantungkan harapan untuk bekerja. Karena itu, ketika Korea juga ambruk karena krisis moneter, semua pihak merasa memiliki dan mau berkorban.

“Naik sama-sama, turun juga sama-sama,” kata teman saya Albert, mengisahkan semangat komunitas dan solidaritas yang tinggi bagi bangsanya.

Kembali ke cerita Jerman yang mau memberi pinjaman kepada Korea Selatan, karena negeri ini memang sedang butuh gastarbeiter (pekerja tamu) yang terbukti menjadi resep untuk pembangunan ekonomi Jerman pasca perang. Negosiasi dengan Jerman langsung dipimpin oleh Jenderal Park. Jadi, mulai tahun 1963 sampai 1983 Korea Selatan mengirim tenaga kerja ke Jerman Barat, bekerja di sektor pertambangan atau perawat. Rombongan pertama tiba 123 orang, setelah lulus test dan seterusnya sampai berjumlah 8600 pekerja dan 10.400 perawat, pada puncaknya.

Jerman di tahun 1961 dibangun Krushchev Tembok Berlin, sehingga pengiriman pekerja dari wilayah Timur dengan upah murah terhenti. Presiden Kennedy menghentikan bantuan untuk Korea karena dipandang tidak demokratis. Berdasarkan catatan, dalam ukuran sekarang tidak seberapa dana pinjaman yang dibayar dengan pengiriman buruh Korea dari Jerman, hanya USD 150 juta. Tetapi jumlah ini sangat penting bagi Presiden Park guna mewujudkan ambisinya untuk pembangunan ekonomi.

Ada catatan menarik. Ketika Park dan isterinya mengunjungi para buruh Korsel di Jerman, dia berpidato: “Betapa sedihnya hati saya karena kemiskinan di negeri kita.” Ketika menyanyikan lagu kebangsaan Korea, tidak hanya Presiden Park dan isterinya serta semua buruh Korea yang menangis. Presiden Jerman Barat, Heinrich Lübke tak urung ikutan menangis haru. Setelah mereka menyelesaikan kontrak 3 tahun, para pekerja ini diperbolehkan tinggal di Jerman dan melanjutnya hidupnya di sana. Sebagian besar kembali ke Korea, dan merasa turut menyumbang bagi kemajuan negerinya, betapapun hanya ‘memburuh’ di negeri orang. Tetapi, mereka membantu Park mewujudkan mimpinya, dan membuktikan “the miracle of the Han river”.

Pengiriman “TKI” ke Jerman Barat ini memang sejarah dan menjadi ‘catatan kaki’ di tengah-tengah keberhasilan Korea Selatan secara ajaib.

Pinjaman USD 150 juta dari Jerman ini lumayan berarti namun tidak cukup meskipun ukuran zaman dulu yang dipakai. Park kemudian menggunakan pinjaman luar negeri ini untuk membangun industri ringan seperti wig, tekstil, dan barang konsumen lainnya yang kemudian segera bergerak cepat. Tentu ini tidak cukup. Park mulai merancang ke pembangunan industri berat: baja, batubara, kimia, mesin dan industri kapal untuk kemajuan lebih cepat ekonomi negeri ini. Namun, mana ada investor luar negeri yang mau.

Tekad Park luar biasa. Baja dibangun tahun 1970 dengan pengorbanan besar dan tidak ada investor luar negeri yang mau mendukung. Mereka ragu, karena perlu modal dan teknologi yang tinggi. Tahun 1973 Pohang, pusat industri baja mulai menghasilkan produk dan keraguan pihak luar mulai sirna. Industri menjadi jantung bagi pembangunan ekonomi Korsel. Pada tahun 2014 Korea menjadi penghasil terbesar ke-4 dunia di bidang baja. Industri baja yang kokoh menjadi tulang punggung penting dalam proses industrialisasi bagi Korsel. Baja maha penting bagi industri kapal, mobil, mesin, dan elektronik.

Saemaul Movement

Kesediaan berkorban untuk negara dengan semangat patriotisme tidak hanya terjadi ketika Park memimpin langsung proses industrialisasi, tetapi juga terbukti ketika presiden bertubuh kecil ini membentuk gerakan komunitas yang disebutnya sebagai “Saemaul Movement”. Gerakan komunitas pada tingkat pedesaan ini bertujuan untuk memperbaiki taraf hidup, membangun infrastruktur dan sarana pertanian.

Lebih 33 ribu pedesaan diberi bantuan semen dan besi, dan setelah 2 tahun bagi desa yang sukses diberi bantuan lebih besar sebagai insentif. Desa dianjurkan untuk swasembada setelah mapan. Rakyat pun memperoleh percaya diri, apapun mungkin jika bekerja keras. Semangat Saemaul ini juga menjalar ke sektor-sektor lain termasuk di industri di kota-kota. Sejak akhir 1960-an sampai tahun 1970-an ekonomi Korsel tumbuh hampir mencapai 10 persen pertahun! Pelajaran penting adalah Korsel tidak dapat hidup semata bergantung pada bantuan luar negeri. Rasa percaya ini juga menjadi modal terpenting kemudian.

Ini mirip dengan semangat gotong-royong. Tetapi, masih adakah semangat kebersamaan di zaman globalisasi di mana semangat individualistis dan menang-menangan semakin kuat di negeri kita?

Di Korea, resep gotong-royong dirancang dengan baik. Pemerintah, di bawah pengawasan langsung Presiden Park, mencatat dengan baik kemajuan yang dicapai di semua desa. Di sana, pada awalnya dibagi semen dan besi, dan kemudian dilengkapi dengan berbagai keperluan untuk membangun industri kecil. Di Korea, desa tidak dibagi uang seperti di Indonesia, yang nantinya akan raib entah ke mana dan tujuan yang kian mengabur karena pastilah supervisi lemah karena ada puluhan instansi yang sibuk sendiri untuk berkoordinasi tanpa hasil.

Semangat Inovatif dan Menyesuaikan Diri

Sekarang, mari kita pelajari resep ke-5 keberhasilan pembangunan Korea Selatan, yakni kemauan dan kegigihan untuk menyesaikan diri untuk menghadapi tantangan: inovasi dan adjustment. Dengan kata lain, bagaimana Korea memandang tantangan hebat itu bertransformasi menjadi ‘opportunity’.

Pada 1978 ketika tejadi oil shock kedua, Korsel sudah siap. Dengan dana petro dolar mengalir ke negeri bahkan Park melakukan investasi di dalam negeri, membangun sejumlah infrastruktur besar-besaran guna mewujudkan mimpinya menjadikan Korsel negara industri maju. Pada oil shock pertama, dana keuntungan yang diperoleh dari pembangunan berbagai sarana di Timur Tengah itu digunakannya untuk membangun industri kapal, baja, perminyakan, kimia dan permesinan. Kedua kalinya, Korsel mulai merestrukturkan ekonominya. Hal ini menjadi kunci perkembangan pesat Korsel di tahun 1980-an, berkat turunnya minyak, melemahnya nilai tukar dolar, dan turunnya suku bunga pinjaman.

Setelah 33 tahun sejak Repelita I tahun 1962, dunia mulai memandang kagum Korsel yang telah tumbuh kokoh dengan mengandalkan industri dan perdagangan internasional. Namun, di sisi lain Korsel mengalami apa yang disebut sebagai ‘bubble economy’ yang berujung pada krisis moneter menjelang akhir tahun 1990-an. Aksi demo marak di mana-mana untuk tuntutan demokratisasi yang memang tertinggal jauh dibanding dengan kemajuan ekonominya. Konglomerat Korea atau ‘chaebol’ juga terancam bangkrut dan ini membahayakan negeri.

Korea selalu menemukan jalannya. Meskipun di tahun 1990-an Korea mendapat tantangan karena gerakan demokrasi menguat namun rakyat di negeri ini sudah kaya. Ancaman kebangkrutan karena krisis moneter dijawab dengan reformasi ekonomi yang sukses dan membuka jalan bagi peningkatan Korea setahap lebih maju. Cadangan devisa yang tinggal USD 3 milyar di tahun 1997 meningkat tajam di 4 tahun kemudian menjadi USD 99 milyar, atau ke-5 tertinggi di dunia! Setelah menyelesaikan pinjamannya lebih cepat 3 tahun kepada IMF sebanyak 350 milyar dolar, maka Korsel melangkah lebih maju dengan mendorong perdagangan internasional setelah menjadi anggota WTO dan OECD di tahun 1996. Pendapatan perkapita juga telah meningkat menjadi USD 10.000, jika dibandingkan di tahun 1953 cuma USD 67,00.

“Mukjizat Sungai Han” kata orang Korea. Dunia pun setuju. Bagaimana salah satu negara termiskin di dunia setelah PD II menjadi salah satu negara terkaya dan menghasilkan produk canggih serta menjadi negara terbesar ke-5 di bidang perdagangan internasional. Bagaimana dari suatu negara yang memohon bantuan untuk mengatasi kelaparan menjadi salah satu negara berpenduduk terkaya dan menjadi negeri donatur bagi negeri-negeri miskin yang masih banyak di berbagai belahan dunia. Itulah Korea!

Kelima resep keberhasilan Korea Selatan itu yang menjadi kunci dalam mencari rahasia perwujudan dari “The Miracle of the Han River”, yaitu:

1. investasi di bidang pendidikan dan penguasaan teknologi,

2. Jiwa entrepreneur dalam menghadapi tantangan,

3. Percaya diri untuk keberhasilan,

4. Kesiapan rakyat untuk berkorban demi untuk tujuan yang lebih baik, dan

5. Senantiasa melakukan inovasi dan adjustment.

Dari tahun 1962 sampai 1994, pertumbuhan dahsyat ekonomi Korea Selatan rata-rata pertahun 10 persen, dengan pertumbuhan ekspor rata-rata 20 persen, sehingga di tahun 1995 telah menjadi ekonomi ke-11 terbesar di dunia. Korea Selatan kini menjadi negara terbesar ke-8 dalam perdagangan internasional yang sejak 1987 telah menjadi negara demokrasi (indeks ke-2 di Asia), sejak 2009 menjadi negara pertama yang mengubah nasib dari penerima bantuan menjadi negara donor utama yang tergabung dalam OECD. Dalam Human Development Index, Korea Selatan menduduki ranking ke-15 dunia dengan pendapatan perkapita terbesar ke 10 dunia.

Korea kini menduduki posisi sebagai negara terbaik dalam student skill di mana 64 persen tenaga kerja berusia 25-34 tahun berijazah sarjana atau diploma (D3), terbaik dari seluruh negara OECD, dan menjadi negara yang paling inovatif karena terdepan dalam risert dan pengembangan, seperti diakui oleh Bloomberg Innovation Quotient. Di bidang ekonomi, Korea Selatan merupakan negara ke-7 eksportir terbesar dunia, terutama unggul di bidang panel display dan memory chips. Masyarakat yang paling melek digital (highly advanced information society) karena memiliki internet tercepat di dunia, top di bidang e-government dan di berbagai bidang lainnya. Mengagumkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: