Tenaga pemasar hebat. Bisa raup 30% total pemasukan. Tapi trouble maker.

Dalam pelatihan karakter, seorang instruktur bertanya: “Ada tenaga pemasar hebat. Bisa raup 30% total pemasukan. Masalahnya perilakunya buat disharmoni. Aset sekaligus trouble maker. Perusahaan tersandera. Sebagai atasan, apa yang musti dilakukan?”

“Jinakkan agar bisa jadi team work”, jawab satu peserta. Benar, saya teriak dalam hati. Namun instruktur bilang: “Sudah. Tak mempan”. Ini instruktur keren bingit. Tak mau bahas alternatif lain. Peserta diminta hanya bahas buah simalakama.

Pecat, 30 persen pemasukan hilang. Tak dipecat, soliditas terancam. Kedua pilihan, sama-sama sandera perusahaan. Peserta pun hening. Saya tak angkat tangan. Lebih nikmat menonton daripada ditonton. Jujur. Sesungguhnya saya tak tahu harus berbuat apa. Hihihik….

Peserta di depan saya angkat tangan. “Kami punya kiat tingkatkan kompetensi karyawan. Yang kami tak punya, bagaimana perilaku jadi baik. Kami masih cari-cari tools-nya”.

Sambil acungkan jempol instruktur bertanya: “So what. Artinya anda pilih singkirkan?”

“Yes, sir. Meski tak berlimpah uang, saya pilih soliditas. Uang banyak tapi tim kisruh untuk apa. Uang bisa beli maestro pemasaran. Tapi tak bisa beli soliditas. Uang bisa buat perusahaan besar. Tapi merawatnya, kita butuh tim yang sehat”.

Semua peserta terdiam. Tentu saja termasuk saya. Dengan maqom cekak, saya coba pahami jawaban itu. Saya bandingkan Indonesia dengan Singapura. Indonesia kaya raya, besar dan menggiurkan. Singapura bahkan lebih kecil dibanding Jakarta. Cuma lebih sehat mana?
Nah, Beberapa tahun yang lalu, saya saksikan wawancara serius tapi menggelikan. Pelatih tim nasional sepak bola, Alfred Riedl, ditanya presenter Alvito: “Tuan Riedl, jika Anda punya penyerang hebat tapi tak disiplin, apa yang Anda lakukan?”

“Saya pecat dia!” Jawab Riedl tanpa tedeng aling-aling.

“Sedari awal sikapnya sudah merusak tim”, katanya lagi menjawab pertanyaan kenapa.

Seperti pelatih di mana pun, bagi Riedl semua pemain sama. Meski dia pencetak gol tersubur, tetap tak ada pilih kasih. Tak disipilin, atau jadi biang kerok, pasti dikandangkan. Jangan sampai “nila setitik rusak susu se-Indonesia”.

Wajah Alvito terkesiap. Riedl punya prinsip, tak tergoyahkan. Lantas Alvito bertanya lagi: “Tuan Riedl. Anda kok tak pernah tersenyum?”

“Saya disewa PSSI untuk melatih. Bukan untuk tersenyum,” jawab Riedl.
Ingatan menclok ke Riwok Ndadari. Dia pernah didatangi orang hebat. CV-nya tertera: Mahasiswa teladan. Juara PON di salah satu cabang olahraga. Punya EO. Dan jadi staf ahli seorang menteri.

Karena pede dia protes. Mengapa dalam wawancara, pertanyaan buatnya tak berkelas. Dia cuma diminta jelaskan hal teknis, cara hadapi pelanggan. Riwok garuk-garuk kepala juga. Ada pelamar yang protes soal materi wawancara.

Dalam sidang penerimaan hal itu diutarakan. Terjadi gempa bumi, alamat tim tak terima. Kepemimpinan Riwok diuji. Andai ditolak, sebenarnya lembaga butuh SDM jempolan. Jika diterima, lembaga jadi taruhan. Maka demi berlanjutnya lembaga, dengan masygul Riwok menolak. Sebagian mimpi Riwok terbang seiring tertolaknya si pelamar hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: