Sistem cerdas 2014/15

April 15, 2015

1. Metode Pencarian
Blind Search
Heuristic Search

2. Fuzzy
Fuzzy 2

Pengkodean 2014/2015

April 15, 2015

1. Teori Informasi
Tambahan

2. deteksi dan koreksi kesalahan

SPK Genap 2014-2015

March 31, 2015

1. Intro SPK
2. Metode SAW

3. Tugas Paper Metode AHP
Tambahan 1 April 2015:
NILAI IR untuk n=4 adalah 0.90

Kerjakan kembali contoh soal pada hal 109-selesai
Print makalah tersebut
Kerjakan lagi di folio bergaris
Hitung rasio konsistensi pada Intelegensia
Hitung rasio konsistensi pada Personality Tes
Hitung rasio konsistensi pada Intelegensia Aptitude
Hitung rasio konsistensi pada Prestasi

Kewirausahaan 2015

March 20, 2015

Kewirausahaan UIN Tahun ajaran 2014-2015
Materi pertemuan I – IV Kewirausahaan

Catatan Kuliah Bisnis Kanvas

Tugas UTS

TIADA MANUSIA YANG SEMPURNA

March 17, 2015

TIADA MANUSIA YANG SEMPURNA

Alkisah, Ya Chun pelajar di Tsung Lin University, Fo Guang Shan, Taiwan, tidak suka dengan dosen pembimbingnya. Dia selalu menolak instruksi dan nasihat dari dosennya itu. Suatu hari Master Hsing Yun, pimpinan universitas, memanggilnya.

“Saya dengar, kamu ada masalah dengan dosen pembimbingmu. Apakah yang membuatmu kurang puas terhadap beliau?”

Ya Chun tidak melewatkan kesempatan itu. Setengah jam lamanya, dia mengutarakan kejelekan dosennya. Master Hsing Yun mendengarkan dengan saksama dan meminta saran-sarannya. Setelah Ya Chun kehabisan ide tentang saran perbaikan untuk sang dosen, akhirnya Master Hsing Yun berkata, “Kalau sudah selesai, sekarang ganti saya yang bicara, ya?” Ya Chun manggut-manggut.

Master Hsing Yun berkata, “Kamu adalah orang yang berkarakter membedakan hitam dan putih secara jelas, memandang perbuatan buruk layaknya musuh.”

Ya Chun mengangguk dan berkata dengan bangga, “Guru, Anda benar. Saya memang orang seperti itu!”

Master Hsing Yun melanjutkan, “Kamu tahu, dunia ini adalah dunia yang ‘separuh separuh’. Langit separuh, bumi separuh. Lelaki separuh, perempuan separuh. Bajik separuh, jahat separuh. Jernih separuh, keruh separuh. Sangat disayangkan, apa yang kamu miliki saat ini adalah dunia yang tidak utuh.”

Ya Chun tercengang sekian saat, lalu bertanya, “Kenapa Guru mengatakan yang saya miliki adalah dunia yang tidak utuh?”

Master Hsing Yun menjawab, “Karena yang kamu cari adalah kesempurnaan. Kamu hanya bisa menerima sisi sempurna yang hanya separuh saja, serta tidak bisa menerima ketidaksempurnaan yang merupakan sisi separuhnya lagi. Oleh karena itu, yang kamu miliki adalah dunia yang tidak utuh, tidak akan pernah menjadi bulat utuh.”

Ya Chun merasa bingung, tidak tahu harus bagaimana. Dia lalu bertanya, “Lantas, saya harus bagaimana ?”

Master Hsing Yun dengan bijaksana menjawab, “Belajar toleran terhadap dunia yang tidak sempurna, maka kamu akan memiliki sebuah dunia yang utuh.”

(Re-post dari kiriman teman; semoga bermanfaat)

Biodata Peneliti

February 10, 2015

FORMULIR BIODATA PENELITI

Belajar Dari Korea Selatan

January 29, 2015

Belajar Dari Korea Selatan
21 Nov 2014
Muhammad Kholid

Tulisan ini adalah kelanjutan dari pembahasan di tulisan saya sebelumnya “Hati Hati Jebakan Pendapatan Menengah!”. Selamat Membaca.

Pada tahun 1960, pendapatan per kapita Korea Selatan tidak jauh berbeda dengan Indonesia yakni USD 79 (low income country). Namun, selama 1970-2002 rata-rata pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 7,2 persen per tahun sehingga kinerja ini mampu meningkatkan pendapatan per kapita sebesar 180 kali lipat menjadi USD 12,638 di tahun 2003 (Yim & Kim, 2005). Tahun 2013, pendapatan per kapita Korea Selatan sudah mencapai sekitar USD26.000 dan masuk dalam jajaran negara-negara berpendapatan tinggi (high income countries).

Dunia pun menyaksikan, bagaimana Korea Selatan yang di tahun 1960-an adalah negara miskin, terbelakang, sangat tradisional dan didominasi kegiatan pertanian subsisten, namun dalam kurun waktu 3 hingga 4 dekade kemudian berubah dengan sangat cepat menjadi raksasa Asia baru dengan berbagai macam produk teknologi canggihnya di pasar global.

Para pelaku bisnis pun mengakui bagaimana Samsung mampu menantang dominasi Apple di pasar industri teknologi tinggi. Bahkan, Samsung Galaxy Tab sendiri telah menjadi market leader di Indonesia. Di industri otomotif ada Hyundai yang telah mampu berkompetisi dengan mobil-mobil mewah dari Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Ada POSCO sebagai salah satu produsen baja terbesar di dunia. Samsung dan 16 perusahaan unggulan Korea Selatan pun sukses masuk dalam Fortune 500 Global Companies di tahun 2014.

Bagaimana Korea Selatan mampu melakukannya?

Para ahli knowledge management dan kebijakan teknologi menyimpulkan bahwa kuatnya Sistem Inovasi Nasional (National Innovation System) adalah kunci kebehasilan transformasi ekonomi Korea Selatan (Chung 1999; Kim 1993, 2001; Lim 2000; Suh 2000). Sistem Inovasi Nasional adalah kolaborasi peran antara pemerintah (public sector), industri dan Universitas dalam melakukan technological learning and transfer untuk memperkuat kemampuan perusahaan dan atau suatu negara dalam menghasilkan inovasi teknologi (Nelson,1995; Lundval, 1992). Banyak studi menunjukkan bahwa pengalaman negara-negara maju sebelumnya yang berhasil mengubah perekonomiannya dari tradisional menuju perekonomian yang modern adalah negara-negara yang mampu melakukan inovasi teknologi (Grossman, 1991).

Professor Linsu Kim dari Korea University yang juga merupakan arsitek kebijakan inovasi teknologi Korea Selatan membagi tiga tahap perjalanan inovasi teknologi negaranya sehingga mampu mencipatakan Sistem Inovasi Nasional yang mumpuni.

Pertama, duplicative imitation (1960-pertengahan 1970). Pada tahap ini, baik perusahaan, universitas maupun institusi pemerintahan masih belum memiliki kemampuan melakukan inovasi teknologi. Permintaan akan inovasi teknologi juga belum ada atau rendah, mengingat perekonomian masih tradisional, bernilai tambah rendah dan mengandalkan factor-faktor produksi yang murah. Kebijakan yang bisa dilakukan adalah membeli produk teknologi yang sudah mature di pasar dan digunakan dalam proses pembangunan ekonomi.

Pada tahap ini, kebijakan technological borrowing dengan cara mempelajari proses dan produk teknologi yang sudah matang (reverse engineering) sebagai sebuah proses pembelajaran teknologi di level perusahaan penting untuk dijalankan. Optimalisasi manfaat efek limpahan teknologi dalam proses foreign direct investment juga dilakukan. Karena di tahap ini permintaan teknologi masih belum tinggi, maka pemerintah berinisiatif menciptakan permintaan tersebut dengan membentuk 20 Government Research Institutes (GRIs) untuk 20 sektor industri strategis yang menjadi prioritas pembangunan.

Oleh karena itu, pemerintah Korea membentuk pusat pengembangan IPTEK yakni Korea Institute of Science and Technology (KIST) pada tahun 1966. Pada periode awal ini, Ministry of Science and Technology (MOST) dan KIST memegang peranan yang sangat sentral dalam meletakan fondasi bangunan Sistem Inovasi Nasional yang kokoh.

Kedua, creative imitation (akhir 1970 – akhir 1980). Kebijakan penciptaan permintaan akan teknologi dengan membentuk KIST dan 20 GRIs menstimulasi terjadinya proses pembelajaran terhadap penggunaan dan penciptaan teknologi imitatif. Penggunaan dan penciptaan teknologi imitatif ini juga berdampak pada peningkatan efisiensi dan efektifitas kinerja perusahaan. Perusahaan-perusahaan ini lambat laun menyadari pentingnya penguasaan teknologi untuk membuat lompatan produktivitas output dan outcome perusahaan. Para pemimpin perusahaan ini pun mulai memahami arti penting teknologi sebagai kunci peningkatan daya saing perusahaan mereka di masa mendatang.

Proses technological learning di tingkat perusahaan dilakukan dengan cara mempelajari explicit knowledge (pengetahuan formal yang bisa dipelajari di bangku sekolahan atau training) dan tacit knowledge (pengetahuan yang dipelajari dengan cara pembiasaan, tindakan dan pengerjaan di lapangan melalaui proses learning by doing). Sinergi GRIs dan Industri mendorong universitas meningkatkan kemampuannya melakukan diseminasi ide dan mendorong terjadinya difusi teknologi. Universitas mulai melakukan peningkatan kemampuan Research & Development, baik untuk basic research maupun applied research bagi pengembangan industri. Jika ditahap duplicative imitation hampir seluruh dananya dari pemerintah, di tahap kedua ini industri mulai melakukan investasi R&D untuk pengembangan kemampuan inovasi perusahaan. Hal ini terbukti peningkatan R&D industri dari awalnya hanya 3 persen di tahun 1970 menjadi 75 persen dari total pengeluaran nasional untuk R&D di tahun 1985. Dan mayoritas investasi R&D itu dilakukan para Chaebol seperti Samsung, Hyundai, Daewoo dll (Kim & Yi, 1997). Pada tahap ini juga mulai dilakukan reorganisasi dan spesialisasi investasi R&D sehingga lebih fokus dalam mendorong adanya inovasi teknologi. Untuk memperkokoh kegiatan R&D, pemerintah membangun Universitas besar khusus untuk pengembangan ilmu pengatahuan dan teknologi, yakni Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST) pada tahun 1971. Di tahap ini juga pemerintah Korea melalui MOST membuat NRDP (National R&D Program).

Ketiga, innovation (awal 1990- sekarang). Runtuhnya tembok berlin dan revolusi ICT menandai era baru globalisasi dengan cirinya hyper-competition. Korea Selatan sadar bahwa jika hanya membuat produk teknologi imitatif (baik itu duplicative maupun creative), Korea Selatan bisa dipastikan tidak akan mampu bersaing di lanskap persaingan ekonomi global. Jika tidak ada arah perubahan kebijakan teknologinya, maka Korea akan menjadi victim dari globalisasi tersebut. Menyadari kondisi tersebut, pemerintah, industri dan universitas berkomiten untuk memperkuat lagi Sistem Inovasi Nasional yang sudah dibangun di dua tahap sebelumnya. Jika sebelumnya pemerintah yang memimpin pembentukan dan pembangunan Sistem Inovasi Nasional, di tahap ini, justru industri yang memimpin revolusi inovasi teknologi. Hal ini bisa dilihat pada tahun 1990, industri melakukan investasi R&D sebesar USD 4,7 milyar dan di tahun 1997 meningkat hampir tiga kali lipat menjadi USD 12,8 milyar (Kim,2001).

Pemerintah sendiri lebih fokus dalam memberikan insentif fiskal yang kompetitif bagi peningkatan daya saing industri, membangun secara masif infrastruktur lunak dan keras, melakukan reformasi birokrasi secara konsisten, menyekolahkan mahasiswa-mahasiswanya secara agresif ke kampus-kampus terbaik didunia, memperkuat implementasi good governance di semua jenjang pemerintahan. Tidak hanya MOST, Kementrian Komunikasi dan Teknologi Informasi dan Kementrian Industri dan Perdagangan juga secara proaktif mendorong kebijakan ekspor produk-produk inovasi teknologi ke pasar dunia. Di saat yang sama, Universitas mengarahkan R&D untuk future technology, pengembangan Science Parks dan pusat-pusat inkubasi teknologi, menyediakan SDM-SDM peneliti handal dan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Di tahap ini pula, Kementrian Pendidikan juga digabungkan dengan Kementrian Riset dan Teknologi. Penyatuan Kementrian Pendidikan dan Ristek dilatar belakangi karena linkage antara Industri dan Universitas sudah sangat kuat dan butuh pengaturan satu atap di satu kementrian.

Modal Indonesia

Tiga tahap inovasi teknologi di atas adalah sebuah upaya ‘Self Discovery’ dari proses pembangunan ekonomi nasional Korea Selatan. Tentunya, setiap negara memiliki karakteristik, keunggulan dan faktor-faktor yang tidak sama. Setiap negara memiliki tantangan yang berbeda dalam menemukan jalan pembangunannya. Namun demikian, pengalaman Korea Selatan ini menunjukkan arti penting penguatan Sistem Inovasi Nasional. Start pembangunan ekonomi Korea Selatan dan Indonesia sama, namun kondisi hari ini menunjukkan hasil yang jauh berbeda.

Fakta ini harus jadi refleksi nasional mengapa ini bisa terjadi? Tesis Paul Krugman yang mematahkan teori keajaiban Asia pada tahun 1994 masih relevan untuk dijadikan rujukan awal. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang dialami Indonesia selama tiga dekade itu adalah pertumbuhan yang unsustainable, karena pertumbuhan itu hanya meningkatkan input lewat labor cost yang rendah dan akumulasi modal yang tinggi. Sedangkan total factor productivity dalam hal ini kapabilitas inovasi teknologi kurang berkembang dengan baik. Teori ‘Paper Tigers‘ yang dicetuskan Nouriel Roubini dkk juga perlu menjadi catatan serius bahwa sumber kejatuhan ekonomi-ekonomi Asia Timur termasuk Indonesia tahun 1998 adalah masalah moral hazard dan governance yang buruk. Perilaku ini yang menyebabkan kebijakan tidak pruden, excessive debt, over investment sehingga menjadi bom waktu bagi perekonomian nasional.

Saat ini Indonesia memiliki modal yang sangat bagus untuk bisa mengikuti jalan sukses ini. Selama 2 dekade mendatang, Indonesia menikmati bonus demografi dimana mayoritas populasinya masuk kategori usia produktif. Ekonomi Indonesia surplus permintaan, tinggal sisi penawaran (industri, teknologi, kualitas SDM dan infrastruktur) yang harus bisa melakukan catch-up. Demokrasi dan politik nasional yang relatif stabil juga menjadi asset yang sangat berharga bagi pembangunan. Kapasitas fiskal yang luar biasa besar menjadi peluang bagi upaya Big Push kebijakan inovasi dan teknologi, tinggal dilakukan reformasi fiskal yang sehat dan lebih berpihak pada pengembangan inovasi teknologi. Kita tentunya berharap, ikhtiar pemerintah Jokowi-JK dengan membentuk Kementrian Ristek dan Dikti dalam satu atap kementrian bukan sekedar menggabungkan dua insitusi yang berbeda tanpa ada arah yang jelas mau kemana kita melangkah. Kebijakan ini harus mampu membangunkan kembali Sistem Inovasi Nasional kita yang mungkin sudah agak lama tertidur pulas. Saatnya Bangkit, Indonesiaku!

sumber: https://www.selasar.com/politik/belajar-dari-korea-selatan

Rahasia Kemajuan Korea Selatan (Bagian 2, Selesai)

January 29, 2015

Rahasia Kemajuan Korea Selatan (Bagian 2, Selesai)
06 Jan 2015
Hazairin Pohan

Pada bagian pertama catatan saya dari perjalanan ke Korea Selatan di-ungkapkan betapa pentingnya pendidikan untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, dilandasi rasa percaya diri dan keyakinan.

Pada awal Repelita I di tahun 1962, Presiden Park Chung-hee menghadapi tantangan yang luar biasa. Kondisi dalam negeri mengalami kemiskinan, kelaparan dan kesusahan melanda di seluruh pelosok negeri. Tetapi, di sana ada harapan untuk kebangkitan dicanangkan. Ada masa depan yang cerah jika kita akan berupaya, berikhtiar menghadapi semua tantangan, dalam dan luar negeri. Maklum, negeri ini baru saja menyelesaikan Perang Korea di tahun 1953 dan mesiu ancaman perang masih tajam menyengat hidung.

Pengiriman Tenaga Kerja

Isu pengiriman tenaga kerja ke luar negeri bukan asing bagi kita. Banyak kesedihan di sana, namun tidak kurang secercah harapan ditumpukan di negeri orang, guna memperbaiki nasib jika keadaan di dalam negeri tidak lebih baik.

Bagaimana dengan Korea? Di negeri Korea yang miskin sumber daya alam, satu-satunya andalan Park adalah ‘sumberdaya manusia’. Tidak mudah bagi Korea, karena negeri ini miskin dan hanya memiliki tenaga kerja industri tanpa sumber daya alam yang berarti. Sebelum melangkah ke pengiriman tenaga kerja, Presiden Park mencoba meminjam uang dari Amerika Serikat. Gagal. Alasannya, Amerika tidak mendukung rejim militer yang represif dan tidak demokratis, apalagi Korea bukanlah negeri petro dolar dengan kekayaan alam yang melimpah. Tidak ada insentif bagi Amerika untuk memenuhi permintaan Park.

Selanjutnya Park mencoba meminjam uang dari Jerman Barat. Sebagai pendukung Amerika, sulit bagi Jerman untuk memberikan pinjaman kepada pemerintah represif junta militer. Park bergeming dan menawarkan untuk mengirim tenaga kerja industri, penambang serta perawat sebagai pembayaran atas pinjaman luar negerinya. Presiden Jerman setuju karena kekurangan tenaga kerja untuk membangun post-war Germany. Upah para pekerja itu dibayar Park dengan mata uang Won di dalam negeri, dan sementara kebutuhan mereka ketika bekerja di Jerman dipenuhi seadanya. Ini disetujui Jerman.

Rakyat Korea pun berbondong-bondong mendaftar, diseleksi dan dikirimkan. Lebih dari sekadar memperbaiki nasib diri sendiri dan keluarga, di sana ada semangat patriotisme, kesediaan berkorban untuk negeri tercita, untuk Ibu Pertiwi. Ini saya sebut resep keempat bagi kesuksesan Korea: kesiapan rakyatnya untuk berkorban demi untuk tujuan yang lebih baik. Tentu saja, syarat kepemimpinan yang didukung rakyat menjadi faktor penting. Park anti KKN dan ternyata miskin di akhir jabatannya.

Di kala negeri memanggil, rakyat pun siap berkorban, baik untuk perang maupun untuk membangun. Ketika negeri ini ditimpa krisis moneter di tahun 1997-1998, rakyatnya mengumpulkan emas dan menyumbangkannya kepada pemerintah, dengan suka rela. 320 ton emas terkumpul dalam waktu singkat!

Di negeri-negeri Asia yang mengalami krisis moneter program Korea ini ditiru. Sebagian berhasil di Thailand, tetapi gagal total di Indonesia. Ketika itu, tidak ada yang mau menyumbangkan emasnya karena tahu kesulitan moneter itu akibat ulah konglomerat untuk kepentingannya. Konglomerat Korea atau Chaebol memang menjadi penyebab anjloknya ekonomi (buble) tetapi chaebol ini bergerak menjadi ‘instrumen’ negara, dan di sana digantungkan harapan untuk bekerja. Karena itu, ketika Korea juga ambruk karena krisis moneter, semua pihak merasa memiliki dan mau berkorban.

“Naik sama-sama, turun juga sama-sama,” kata teman saya Albert, mengisahkan semangat komunitas dan solidaritas yang tinggi bagi bangsanya.

Kembali ke cerita Jerman yang mau memberi pinjaman kepada Korea Selatan, karena negeri ini memang sedang butuh gastarbeiter (pekerja tamu) yang terbukti menjadi resep untuk pembangunan ekonomi Jerman pasca perang. Negosiasi dengan Jerman langsung dipimpin oleh Jenderal Park. Jadi, mulai tahun 1963 sampai 1983 Korea Selatan mengirim tenaga kerja ke Jerman Barat, bekerja di sektor pertambangan atau perawat. Rombongan pertama tiba 123 orang, setelah lulus test dan seterusnya sampai berjumlah 8600 pekerja dan 10.400 perawat, pada puncaknya.

Jerman di tahun 1961 dibangun Krushchev Tembok Berlin, sehingga pengiriman pekerja dari wilayah Timur dengan upah murah terhenti. Presiden Kennedy menghentikan bantuan untuk Korea karena dipandang tidak demokratis. Berdasarkan catatan, dalam ukuran sekarang tidak seberapa dana pinjaman yang dibayar dengan pengiriman buruh Korea dari Jerman, hanya USD 150 juta. Tetapi jumlah ini sangat penting bagi Presiden Park guna mewujudkan ambisinya untuk pembangunan ekonomi.

Ada catatan menarik. Ketika Park dan isterinya mengunjungi para buruh Korsel di Jerman, dia berpidato: “Betapa sedihnya hati saya karena kemiskinan di negeri kita.” Ketika menyanyikan lagu kebangsaan Korea, tidak hanya Presiden Park dan isterinya serta semua buruh Korea yang menangis. Presiden Jerman Barat, Heinrich Lübke tak urung ikutan menangis haru. Setelah mereka menyelesaikan kontrak 3 tahun, para pekerja ini diperbolehkan tinggal di Jerman dan melanjutnya hidupnya di sana. Sebagian besar kembali ke Korea, dan merasa turut menyumbang bagi kemajuan negerinya, betapapun hanya ‘memburuh’ di negeri orang. Tetapi, mereka membantu Park mewujudkan mimpinya, dan membuktikan “the miracle of the Han river”.

Pengiriman “TKI” ke Jerman Barat ini memang sejarah dan menjadi ‘catatan kaki’ di tengah-tengah keberhasilan Korea Selatan secara ajaib.

Pinjaman USD 150 juta dari Jerman ini lumayan berarti namun tidak cukup meskipun ukuran zaman dulu yang dipakai. Park kemudian menggunakan pinjaman luar negeri ini untuk membangun industri ringan seperti wig, tekstil, dan barang konsumen lainnya yang kemudian segera bergerak cepat. Tentu ini tidak cukup. Park mulai merancang ke pembangunan industri berat: baja, batubara, kimia, mesin dan industri kapal untuk kemajuan lebih cepat ekonomi negeri ini. Namun, mana ada investor luar negeri yang mau.

Tekad Park luar biasa. Baja dibangun tahun 1970 dengan pengorbanan besar dan tidak ada investor luar negeri yang mau mendukung. Mereka ragu, karena perlu modal dan teknologi yang tinggi. Tahun 1973 Pohang, pusat industri baja mulai menghasilkan produk dan keraguan pihak luar mulai sirna. Industri menjadi jantung bagi pembangunan ekonomi Korsel. Pada tahun 2014 Korea menjadi penghasil terbesar ke-4 dunia di bidang baja. Industri baja yang kokoh menjadi tulang punggung penting dalam proses industrialisasi bagi Korsel. Baja maha penting bagi industri kapal, mobil, mesin, dan elektronik.

Saemaul Movement

Kesediaan berkorban untuk negara dengan semangat patriotisme tidak hanya terjadi ketika Park memimpin langsung proses industrialisasi, tetapi juga terbukti ketika presiden bertubuh kecil ini membentuk gerakan komunitas yang disebutnya sebagai “Saemaul Movement”. Gerakan komunitas pada tingkat pedesaan ini bertujuan untuk memperbaiki taraf hidup, membangun infrastruktur dan sarana pertanian.

Lebih 33 ribu pedesaan diberi bantuan semen dan besi, dan setelah 2 tahun bagi desa yang sukses diberi bantuan lebih besar sebagai insentif. Desa dianjurkan untuk swasembada setelah mapan. Rakyat pun memperoleh percaya diri, apapun mungkin jika bekerja keras. Semangat Saemaul ini juga menjalar ke sektor-sektor lain termasuk di industri di kota-kota. Sejak akhir 1960-an sampai tahun 1970-an ekonomi Korsel tumbuh hampir mencapai 10 persen pertahun! Pelajaran penting adalah Korsel tidak dapat hidup semata bergantung pada bantuan luar negeri. Rasa percaya ini juga menjadi modal terpenting kemudian.

Ini mirip dengan semangat gotong-royong. Tetapi, masih adakah semangat kebersamaan di zaman globalisasi di mana semangat individualistis dan menang-menangan semakin kuat di negeri kita?

Di Korea, resep gotong-royong dirancang dengan baik. Pemerintah, di bawah pengawasan langsung Presiden Park, mencatat dengan baik kemajuan yang dicapai di semua desa. Di sana, pada awalnya dibagi semen dan besi, dan kemudian dilengkapi dengan berbagai keperluan untuk membangun industri kecil. Di Korea, desa tidak dibagi uang seperti di Indonesia, yang nantinya akan raib entah ke mana dan tujuan yang kian mengabur karena pastilah supervisi lemah karena ada puluhan instansi yang sibuk sendiri untuk berkoordinasi tanpa hasil.

Semangat Inovatif dan Menyesuaikan Diri

Sekarang, mari kita pelajari resep ke-5 keberhasilan pembangunan Korea Selatan, yakni kemauan dan kegigihan untuk menyesaikan diri untuk menghadapi tantangan: inovasi dan adjustment. Dengan kata lain, bagaimana Korea memandang tantangan hebat itu bertransformasi menjadi ‘opportunity’.

Pada 1978 ketika tejadi oil shock kedua, Korsel sudah siap. Dengan dana petro dolar mengalir ke negeri bahkan Park melakukan investasi di dalam negeri, membangun sejumlah infrastruktur besar-besaran guna mewujudkan mimpinya menjadikan Korsel negara industri maju. Pada oil shock pertama, dana keuntungan yang diperoleh dari pembangunan berbagai sarana di Timur Tengah itu digunakannya untuk membangun industri kapal, baja, perminyakan, kimia dan permesinan. Kedua kalinya, Korsel mulai merestrukturkan ekonominya. Hal ini menjadi kunci perkembangan pesat Korsel di tahun 1980-an, berkat turunnya minyak, melemahnya nilai tukar dolar, dan turunnya suku bunga pinjaman.

Setelah 33 tahun sejak Repelita I tahun 1962, dunia mulai memandang kagum Korsel yang telah tumbuh kokoh dengan mengandalkan industri dan perdagangan internasional. Namun, di sisi lain Korsel mengalami apa yang disebut sebagai ‘bubble economy’ yang berujung pada krisis moneter menjelang akhir tahun 1990-an. Aksi demo marak di mana-mana untuk tuntutan demokratisasi yang memang tertinggal jauh dibanding dengan kemajuan ekonominya. Konglomerat Korea atau ‘chaebol’ juga terancam bangkrut dan ini membahayakan negeri.

Korea selalu menemukan jalannya. Meskipun di tahun 1990-an Korea mendapat tantangan karena gerakan demokrasi menguat namun rakyat di negeri ini sudah kaya. Ancaman kebangkrutan karena krisis moneter dijawab dengan reformasi ekonomi yang sukses dan membuka jalan bagi peningkatan Korea setahap lebih maju. Cadangan devisa yang tinggal USD 3 milyar di tahun 1997 meningkat tajam di 4 tahun kemudian menjadi USD 99 milyar, atau ke-5 tertinggi di dunia! Setelah menyelesaikan pinjamannya lebih cepat 3 tahun kepada IMF sebanyak 350 milyar dolar, maka Korsel melangkah lebih maju dengan mendorong perdagangan internasional setelah menjadi anggota WTO dan OECD di tahun 1996. Pendapatan perkapita juga telah meningkat menjadi USD 10.000, jika dibandingkan di tahun 1953 cuma USD 67,00.

“Mukjizat Sungai Han” kata orang Korea. Dunia pun setuju. Bagaimana salah satu negara termiskin di dunia setelah PD II menjadi salah satu negara terkaya dan menghasilkan produk canggih serta menjadi negara terbesar ke-5 di bidang perdagangan internasional. Bagaimana dari suatu negara yang memohon bantuan untuk mengatasi kelaparan menjadi salah satu negara berpenduduk terkaya dan menjadi negeri donatur bagi negeri-negeri miskin yang masih banyak di berbagai belahan dunia. Itulah Korea!

Kelima resep keberhasilan Korea Selatan itu yang menjadi kunci dalam mencari rahasia perwujudan dari “The Miracle of the Han River”, yaitu:

1. investasi di bidang pendidikan dan penguasaan teknologi,

2. Jiwa entrepreneur dalam menghadapi tantangan,

3. Percaya diri untuk keberhasilan,

4. Kesiapan rakyat untuk berkorban demi untuk tujuan yang lebih baik, dan

5. Senantiasa melakukan inovasi dan adjustment.

Dari tahun 1962 sampai 1994, pertumbuhan dahsyat ekonomi Korea Selatan rata-rata pertahun 10 persen, dengan pertumbuhan ekspor rata-rata 20 persen, sehingga di tahun 1995 telah menjadi ekonomi ke-11 terbesar di dunia. Korea Selatan kini menjadi negara terbesar ke-8 dalam perdagangan internasional yang sejak 1987 telah menjadi negara demokrasi (indeks ke-2 di Asia), sejak 2009 menjadi negara pertama yang mengubah nasib dari penerima bantuan menjadi negara donor utama yang tergabung dalam OECD. Dalam Human Development Index, Korea Selatan menduduki ranking ke-15 dunia dengan pendapatan perkapita terbesar ke 10 dunia.

Korea kini menduduki posisi sebagai negara terbaik dalam student skill di mana 64 persen tenaga kerja berusia 25-34 tahun berijazah sarjana atau diploma (D3), terbaik dari seluruh negara OECD, dan menjadi negara yang paling inovatif karena terdepan dalam risert dan pengembangan, seperti diakui oleh Bloomberg Innovation Quotient. Di bidang ekonomi, Korea Selatan merupakan negara ke-7 eksportir terbesar dunia, terutama unggul di bidang panel display dan memory chips. Masyarakat yang paling melek digital (highly advanced information society) karena memiliki internet tercepat di dunia, top di bidang e-government dan di berbagai bidang lainnya. Mengagumkan.

Rahasia Kemajuan Korea Selatan (Bagian 1)

January 29, 2015

Rahasia Kemajuan Korea Selatan (Bagian 1)
05 Jan 2015
Hazairin Pohan
Pengamat Senior. Ketua Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemlu RI (2012) dan Duta Besar RI untuk Polandia (2006-2010).

Korea Selatan (www.informasimu.com)

Jika sekarang orang mengatakan Korea Selatan adalah hebat tentu susah dibantah. Negeri ini tampil nyata di international stage pada bidang ekonomi maupun politik. Tetapi, siapa menyangka ketika dunia sekarang ini masih dilanda kemiskinan, di negeri-negeri yang banyak rakyatnya hidup di bawah 1 dolar perhari, ternyata keadaan serupa pernah hadir cukup lama di Korea Selatan.

Dari negeri ini, kita di Indonesia bisa belajar banyak. Betapa kita menyia-nyiakan kekayaan alam melimpah ruah, sumber daya manusia yang hebat karena negeri kita dipandang dunia sebagai the young nation, dan yang paling merugi adalah menyia-nyiakan waktu. Korea Selatan tidak memiliki sumber daya alam dan bukan pula dihitung sebagai the young nation. Akan tetapi, mereka tidak menyia-nyiakan waktu, dan kesempatan sekecil apapun. Ya, mereka memanfaatkan akal dan budi manusia untuk menyiasati tantangan untuk diubah menjadi kesempatan.

Bagaimana negeri ini secara spektakuler dalam 60 tahun seusai perang yang berkepanjangan di tahun 1953 bisa mencuat mengagumkan? Orang mengatakan hal ini dicapai karena “The Miracle of the Han River”. Sungai Han ini membelah ibukota Seoul yang dulu juga miskin papa, boleh dibilang sumber inspirasi, dari peradaban unggul bahkan sebelum Masehi. Saya 2 kali mengunjungi negeri ini, tahun 2013 dan 2014 atas undangan seorang sahabat saya Albert yang juga sering berkunjung ke Indonesia. Masing-masing kami mempunyai catatan, kelebihan dan kekurangan baik di Indonesia maupun di Korea. Kini giliran saya membuat catatan tentang negerinya.

“Ibu saya sering tidak makan, dan jika kami sedang makan seadanya saya bertanya mengapa ibu tidak makan, dan ibu saya selalu bilang dia sudah makan. Padahal saya tahu dia belum makan,” kenang Albert, pada masa kecilnya di tahun 1950-an, ketika negerinya baru saja selesai Perang Korea, 1950-1953.

Kalau makan boleh kurang, namun belajar wajib lebih, dan presiden kami ketika itu, Park Chung-hee bilang kalau kamu lapar karena makanan kurang perbanyak minum air, kenang Albert lagi. Masa kecil Park sendiri penuh penderitaan, ayahnya cuma pencari jamur di hutan dan sering minum-minum di lapo dekat rumahnya. Ibunya buruh tani yang menjadi tulang-punggung untuk menghidupi maupun mendidik anak-anaknya. Park yang bertubuh kurus kecil setiap harinya berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk pergi ke SD yang jauh dari kampungnya, Gumi.

Korea Selatan, negeri seluas 100 ribu km2 dengan penduduk 51 juta kini muncul di akhir Perang Dunia II dan terbelah dua dengan saudaranya di Korea Utara yang relatif lebih makmur ketika itu di akhir Perang Korea, tahun 1953. Korea dengan 70 persen tanahnya perbukitan yang gersang dan kosong praktis memulai membangun hanya bermodal sumberdaya manusia, tepatnya dengan semangat mereka yang tinggi. Kedua Korea pewaris dari Kerajaan Goryeo atau juga disebut Koryo dan disebut orang Inggris sebagai “Korea”.

Sejarah negeri ini yang ribuan tahun lalu pernah jaya, wilayahnya mencakup Manchuria di China, memang bangsa yang ulet, tahan menderita, dan cerdik. Mereka bangga dalam ribuan kali berperang dengan China mereka tidak pernah kalah. Meskipun pernah dijajah Jepang selama 35 tahun, namun berkat kegigihan Park dan dukungan rakyanya kini Korea Selatan telah mengalahkan Jepang di berbagai bidang.

Setelah kemerdekaan di tahun 1945 dan dilanjutkan dengan penentuan masa depan negeri ini oleh pemenang Perang Dunia yang gagal membentuk pemerintahan selama 3 tahun karena dibayangi oleh perbedaan ideologis: kapitalis atau komunis. Karena tidak tercapai kata sepakat, terjadilah Perang Korea selama 3 tahun di tahun 1950. Pada akhir perang di tahun 1953 tercatat 5 juta orang tewas sebagai korban dari Perang Korea. Negeri ini pun hancur lebur dan terbelah dua. Nanti, di bagian lain akan saya tulis mengapa faktor eksternal itu begitu kuat memisahkan kedua negeri ini.

Memang sukar membayangkan kemiskinan dahsyat terjadi di “negeri ginseng” ini. Di tahun 1953, pendapatan perkapita cuma USD 67,00, lebih rendah daripada Filipina atau Myanmar! Negeri ini pernah 90 persen tergantung pada bantuan luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, setelah Perang Korea. Sehabis Perang Korea di tahun 1953, Jenderal Mac Arthur, panglima perang AS di Pasifik pernah bilang: “negeri ini tidak punya masa depan, dalam seratus tahun pun tidak cukup untuk membangunnya”. Tidak dipandang penting bagi Mac Arthur kecuali karena obsesinya menghalau komunis Tiongkok.

Apa resep Korea Selatan sukses membangun?

Mengutamakan Pendidikan dan Penguasaan Teknologi

Pertama, Korsel memilih jalan yang tepat: pendidikan satu-satunya program untuk restorasi bangsa. 90 persen APBN hanya untuk pendidikan. “Belajar dan kerja keras: hanya itu cara untuk memuliakan hidup”, demikian seruan pemimpin negeri ini. Maka berduyun-duyun anak-anak pergi ke sekolah meskipun menempuhnya berjalan kaki sejauh 10 km setiap harinya. Investasi dan kesungguhan dalam pendidikan ini merupakan modal bagi Korsel untuk menghasilkan tenaga kerja unggul di bidang industri. Inilah yang menjadi impetus kemajuan bagi negeri ini.

Korea Selatan 60 tahun kemudian telah berubah menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-12 dunia! Transformasi ini, menurut penerawang modern Alvin Toffler, lompatan yang luar biasa, berkat kemajuan pengetahuan dan teknologi. Ini yang menjadi obsesi Korea ketika negeri ini dipimpin oleh Presiden Park Chung-hee. Resep pertama ini kemajuan di bidang penguasaan iptek berkat resep kedua keberhasilan Korea: jiwa entrepreneur, kemandirian dalam menghadapi tantangan. Untuk mencapai kemandirian menghadapi tantangan, diperlukan resep ketiga: percaya diri untuk mencapai keberhasilan. Mari kita lanjutkan.

Memang setelah perang berakhir, ancaman komunis dari Utara yang didukung Soviet dan Tiongkok telah menjadikan bangsa ini “under siege”, atau mengidap penyakit sampai kini “siege mentality”. Semua tetangganya, Korut, Tiongkok, Jepang, dan Rusia pada tingkat berbeda adalah ancaman. Yang paling berbahaya adalah saudaranya di Utara itu. Karena itu pula tidak heran jika Korsel pun jatuh di tangan penguasa militer, di bawah Jenderal Park Chung-hee yang menjadi penguasa negeri setelah kudeta militer di tahun 1961. Park berkuasa sampai di tahun 1979, selama 18 tahun, sampai dia ditembak mati oleh kepala intelijen, KCIA. Dalam kurun 18 tahun di bawah rezim militer tentu saja HAM atau demokrasi dikorbankan, dan tampaknya bukan sia-sia. Nanti kita ulas rekam-jejak Park Chung-hee secara khusus dalam tulisan berikutnya di seri ini.

Rezim militer menafikan pentingnya HAM atau demokrasi demi pembangunan ekonomi sebagai prioritasnya. Park kemudian membentuk Dewan Perencana Ekonomi, yang juga bertanggungjawab untuk alokasi dana pembangunan serta untuk investasi luar negeri. Tidak ada catatan khusus apakah Jenderal Park itu anti demokrasi. Cuma, dia pandang demokrasi pada waktu yang sempit itu kemewahan yang tidak bermanfaat. Bahkan sering menghambat dia dalam membangun Korea. DPR yang bertele-tele tidak di-entertain oleh Park.

Tidak lama setelah kudeta, di tahun 1962 Korea di bawah Park menetapkan Repelita yang menjadi blue print pembangunan ekonomi yang menjadi prioritas utamanya. Masalahnya dana tidak ada, bahkan AS juga kurang mendukung, seperti tercermin dalam ucapan Mac Arthur bahwa seratus tahun pun tak cukup untuk membangun Korea. Kesia-siaan. Amerika tak mau memberikan pinjaman pada pemerintah pelanggar HAM dan anti-demokrasi itu.

Park tidak menyerah.

Bersambung
sumber: https://www.selasar.com/politik/rahasia-kemajuan-korea-selatan

Matematika Diskrit 2014-15

January 11, 2015

1. Materi Himpunan
2. Relasi dan Fungsi
3. Induksi

1. Permutasi dan Kombinasi
2. Teori Bilangan Bulat


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.